Ketuhanan Yang Maha Esa itu menyandarkan diri pada kebenaran yang mutlak.
Esa bukan satu atau sesuatu hal yang berbilang. Esa (sansekerta) berarti mutlak.
hanyalah sebuah bahasa komunikasi bahasa yang menunjukkkan ketidak-terbatasan ruang dan waktu.
manusia yang ber-Ketuhanan adalah ia yang tunduk pada kebenaran.
ketundukan itu semata-mata bukan pasungan.
tunduk pada kebenaran, penuh kesadaran mengantarkan diri pada posisi ikhlas.
dan pada keihklasan itulah letaknya kemerdekaan.
Manusia Indonesia adalah manusia yang merdeka, yakin menata kehidupannya dengan tata kelola kehidupan menurut nilainya masing-masing.
Islam, berkehidupan sesuai metodologi nilai yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Kristiani berkehidupan sesuai metodologi nilai yang disampaikan oleh Isa Al-Masih, begitu pula Hindu, Budha yang berkehidupan sesuai nilai yang ada di Al-Kitab.
Manusia Indonesia adalah manusia yang sadar nilai.
menyadari perbedaan pendekatan dan keyakinan dalam berkehidupan namun yakin ada kesamaan yang ingin di bangun bersama, yakni kemanusiaan dan dan peradaban sejati.
Manusia Indonesia yang ber-Tuhan adalah yang lebih memprioritaskan manusia daripada ritual atau Ego Ke-Tuhanannya.
Ia sadar betul apa yang diinginkan Tuhan yang ia pahami dengan nilai. (keinginan Tuhan:bahasa komunikasi yang tidak mewakili semesta dan sifat2nya).
Manusia Indonesia yang ber-Tuhan lalu senantiasa menuju kebenaran tanpa selalu merasa benar.
mengedepan persatuan dan konstruktif membangun Bangsanya.
Itulah Indonesiaisme.