Belakangan ini senter pemberitaan tentang kemiskinan ekstrem di Jawa Tengah. Pemalang termasuk salah satu dari lima daerah di Jawa Tengah dengan tingkat kemiskinan tinggi.
Serem memang, menyebut kemiskinan sebagai sesuatu yang “ekstrem”. Ungkapan itu seolah mengisyaratkan bahwa kemiskinan itu sudah meresap, radikal dan mendarah daging. Duh bahaya...
Sedikit melupakan tema di atas, Saya mencoba mulai jalan-jalan ke daerah Pemalang Selatan. Terutama di daerah Kejene kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang.
Menemui anak-anak muda yang sedang gigih membangun wisata mandiri di kampung. Semangat anak-anak muda itu mendorong Saya untuk singgah di Gubug Kopi “POKDARWIS”. Kelompok Sadar Wisata katanya.
Mereka bermimpi merubah kawasan Hutan menjadi lebih indah agar bisa dinikmati Masyarakat sebagai tujuan wisata. Juga menjadi medan magnet perekonomian warga sekitar. Mereka mengatasnamakan “Pokdarwis Wana Wjaya Kusuma”. Indahnya...
Anak-anak muda yang bergerak tanpa uang Negara, dengan mimpi yang sederhana ; memakmurkan masyarakat sekitar.
Pikiran Saya mulai kembali menerawang Cakrawala.
Betapa Rakyat sesungguhnya mampu mencari makan sendiri. Betapa anak-anak muda mampu berkarya sendiri. Negara bahkan tak melakukan campur tangan apa apa.
Disaat masyarakat desa berjibaku menjadi buruh tani, pangon kerbau di hutan, bertani di lahan terbatas, dan anak-anak muda berpikir keras mengorbankan waktu tenaga untuk menggali sumber-sumber ekonomi untuk masyarakat.
Saat itu pula orang-orang pemerintahan kita (sebut saja oknum, hehe) sibuk menghabiskan anggaran.
Membangun proyek-proyek fisik dan menikmati kue nya.
Melakukan kegiatan-kegiatan non fisik yang tidak ada kaitannya dengan pembangunan ekonomi Rakyat.
Sibuk jalan jalan atasnama study yang tak pernah dipraktekkan ilmu hasil studynya.
Heu heu heu...
Akhirnya Saya pun sedikit mencari dalil untuk menyimpulkan.
Bahwa kemiskinan ekstrem itu diciptakan, ini struktural bukan alamiah.
Rakyat memang bisa selalu makan dengan usahanya sendiri. Namun pemerintah tak turut membukakan akses-akses ekonomi lain dan enggan mengembalikan uang Rakyat kepada Rakyat itu sendiri.
Glek!
habiskan sisa kopinya, besok kita ting lagi.