Oleh: Abdullah Sungkar, M.T
Peminat Urban Design Study (Studi Perancangan Kota), alumni Magister Teknik Arsitektur UNDIP
SuaraPantura.com - Idealnya tentu sebuah kota memiliki pusat-pusat aktifitas yang merata di seantero kota. Tapi tentu ini sebuah keinginan yang utopis. Esther Charlesworth bahkan menulis buku yang judulnya City Edge, ya Pinggir Kota kurang lebih maknanya.
Sebagian city planner gunakan istilah Peri-Urban untuk sebut pinggir kota ini. Dan barangkali masalah peri urban ini merupakan masalah latent dalam proses tumbuh kembang sebuah kota.
Salah satu sub-Bab dalam buku City Edge berjudul Centre Vs Periphery, maknanya seperti judul tulisan ini. Tinggal dan berada di pinggir kota itu mirip terlahir mewarisi keadaan yang kurang menguntungkan.
Peri-Urban terbentuk karena proses evolusinya yang tertinggal dari pusat kota, budaya, dan peristiwa yang mempengaruhi lingkungannya. Di samping fungsi lahan pinggir kota yang bukan pusat bisnis, politik sangat berperan dalam stagnansi bentuk fisik yang tetap rural dan sulit terurbanisasi (unurbanized).
Bagi politisi pemegang kuasa kota, membangun pusat kota lebih terlihat kerjanya dengan bonus elektoral yang lebih menjanjikan.
Ambil Kota Tegal sebagai case study, hampir setiap Walikotanya punya preferensi untuk "revitalisasi" alun-alun, objek wisata PAI, dan sekarang Malioboronisasi pecinan Kota Tegal.
Repotnya lagi, rencana tata ruang kota memang dibuat untuk langgengkan dominasi pusat kota. Jadi, membicarakan keseimbangan pembangunan inter-wilayah kota memang masih utopis alias khalayan, paling tidak sampai saat ini.***