Oleh : Hendri Yetus Siswono
SuaraPantura.com - Gerim gerimis menenun bayang cemas di area Wartem PUSKUD tempat diskusi blakasuta bakal dialirhadirkan. Rintiknya jatuh satu satu, satu persatu teman datang bersalam saling menyapa berkabar daerah asal.
Manteman dari pelosok 5 daerah hadir karena epos ya epos (energi positif) yang mengalir. Banjarharjo, Slawi, Songgom, Tegal, Cirebon, Purwokerto, dan tentu saja ada puluhan pemuda Brebes.
Beberapa teman muda di kota Brebes yang diundang tidak hadir dan ini tidak mengelisahkanku, malah menegaskan bahwa undangan untuk sebuah diskusi memang minim perhatian. Kelak saya pun akan undang mereka untuk acara dangdutan atawa seminar di gedung pemerintah saja, memang disitu passionnya.
Isu lingkungan, nampaknya belum mendapat simpati di sini, yang hadir mlm ini malah banyak dari luar Brebes kota. Malah generasi tua yang lebih banyak hadir dan mengikuti acara sampai tuntas tidak beranjak. Ini mengelisahkanku, ada apa dengan generasi mudanya?
Hadir Kang Deden Bae, Ageng, Kribo Rony dengan kaos tertera di dada tulisan ndasmumet. Pancen bikin mumet ya Ron, Brebes ini.
Acara dipandu oleh pejalan budaya Noer Sidik , kehadirannya terasa memenuhi panggung blakasuta yang kecil dan cuman gelaran karpet 2x3. Kebesaran badan eh jiwa nur senksok mengikis abis, gerimis yang secara tiba-tiba mandeg dan cuaca cerah plus hangat.
Pembacaan puisi mengalir dengan opening art Selamatkan Samet, di panggung berdiri seorang dengan tembang singgah-singgah, sebuah tembang mantra penolak bala ciptaan Sunan Kalijaga. Lalu dari empat penjuru mata angin, terdengar rintih lolong teriakan banjir banjir miskin ekstrim gunung meletus.. ditimpali suara kentongan titir tanda bahaya mengepung area diskusi.
Penonton terhenyak, kaget, bingung ada juga tepuk tangan entah untuk apa. Mungkin tepuk tangan untuk menghindar diri dari keterhenyakan, atau tepuk tangan karena keterkagetan. Mungkin.
Opening art selesai. Kemudian dan kemudian pengiring angin Wahyu Ranggati bergerak, menari dan melontarkan bait-bait puisi Prahara. Lalu mengalirlah satu persatu pembaca puisi ada mba Zara Zetira BeYe membaca puisi Taufik Ismail, dan ini membuat senksonk ngebet segera maju membacakan sajak Rendra.
Suasana semakin gayeng dan mengairahkan, dan Jimmy Hollyfield Culxs selalu berhasil membuat gairah panggung mulab-mulab dengan karinding dan suling.
Ada mas Apito Lahire Apito dan Dyon Dyonk bermain di panggung, berlari, berguling, teriak, mendesah, merintih pedih ah uh ah uh semacam gunung slamet yang sedang dieksploitasi diperkosa oleh koorporat.
Kapitalis global memperkosa Gunung Slamet, diizinkan secara resmi oleh negara, tangannya dipegangi oleh komprador, kakinya dengan dipegangin kaum politikus busuk dan lsm preman, mulutnya dibungkam oleh wartawan amplop. Sehingga suara jeritan dan kesakitan Gunung Slamet tak terdengar, dan sayup-sayup bisa ditangkap suaranya oleh segelintir aktivis dan seniman.
Ah uh ah 'untung aku wingi kiye ora dadi juri manuk' jare Apito sambil membetulkan letak celananya yang kedodoran. Tekanan dan himpitan kebutuhan ekonomi telah membuat kepekaan seniman jadi tumpul dan masa bodoh. Yuhhhh NGEBYAKKK begitu teriak Apito Lahire, mendobrak kemampatan berfikir dan ketumpulan imajinasi kaum muda.
Bergerak bergerakkk ngerolll ngerolll das des duss. Dilanjut pembacaan puisi dari Lebe, Zombie Pantura mengema dan menusuk sisi kemanugsan .
Di tengah gayeng acara Blakasuta kerawuhan Sastrawan Tegalan, yang hari ini berulang tahun ke-27. Ada Atmo Tan Sidik, budayawan pesisir, Entih Muddakir Penyair Tegalan, mas Nindra bahurekso Pelataran Sastra Piek, M. Ayyub Dwiery Santoso, Dhimas Riyanto. Kehadiran pak Atmo Tan Sidik dkk, membuat suasana semakin hangat. Memang benar kurasakan kehadirannya mampu menularkan energi positif ke kawan-kawan. Sehingga aura acara dan panggung begitu gayeng, hangat dan mengairahkan.
Ditambah dengan penampilan Band PASIEN RAWAT INAP teman-teman dari Bumi Jawa, isinya beberapa anak-anak dari AMPSKP (aliansi masyarakat pekerja seni kontra penindas). Lagu-lagu yang mereka nyanyikan mengiring ke rasa perlawanan. Ada daya hidup terasa di sana, api anak muda yang berani berkata dan bersikap blakasuta, jujur.
Semakin malam semakin banyak yang tampil baca puisi, suasa yang tercipta membuat setiap orang tertarik aura panggung yang mempesoba dan bikin sange bagi pembaca puisi. Penyair dari Cirebon Jabo Merdeka , Dany Padmadisastra membacakan sajak-sajak dengan gairah yang meluap dan menjadi magnet bagi penonton untuk 8kut baca . Hmmm malam yang ...
bersambung...
(Penulis adalah pegiat sastra di Blakasuta )