SuaraPantura.com - Dampak pembangunan menyisakan gurat-gurat kekecewaan dan kesusahan bagi para Pedagang Kaki Lima.
Mereka yang sempat kehilangan pangan dan terlunta lunta kini musti menerima kenyataan yang lebih pahit.
Disaat para pedagang kakilima di taman poci (sekarang Taman Pancasila) dan Alun-alun Kota Tegal tengah sekarat ekonomi menanti janji pusat jajanan serba ada (Pujasera), kini para Pedagang kaki lima Jl. A. yani musti siap dana besar untuk pembelian foodtruk sebagai prasarat berdagang kembali di Jl. A yani.
Membaca nilainya saja sudah bikin bulu Pedagang bergidik.
Estimasi harga foodtruk sekitar 300 juta-an. Tentu saja dalam kondisi pasca pandemi ini mereka tidak punya dana tunai sebesar itu. Sekelas pengusaha besar saja angka tunai sebesar itu dalam kondisi begini mungkin juga masih tergolong besar.
Pemerintah tahu betul dengan kondisi dan situasi begitu. Itulah kenapa pada saat sosialisasi foodtruk ini dengan para pedagang mereka menghadirkan juga orang dari salah satu Bank.
Sudah ketebak kan endingnya?. Menghadirkan alternatif Bank dianggap sebuah solusi. Menyarankan para pedagang yang tak berkemampuan cash untuk ngutang di bank. Hutang dianggap solusi.
Padahal jika Pemerintah benar-benar peduli dengan Pedangan, mereka bisa saja melakukan pengadaan foodtruk untuk kemudian pedagang menyewa kepada Pemerintah.
Jika kebijakan itu tidak berani dilaksanakan, ataukah barangkali Penerintah ini sebenarnya tidak yakin terhadap hitungan nilai ekonomi dari pengadaan foodtruk ini?
Lantas, kenapa para pedagang dibiarkan membeli foodtruk sendiri?