SuaraPantura.com - Ditengah-tengah kerumunan sepanjang jalan Pancasila, sabtu malam kemarin (4/12/2021), terasa berbeda dari malam-malam biasanya.
Asap wewangian mengepul ke udara, terlihat sesosok badan "subur" duduk bersila, tetiba dia mengeraskan suara membacakan terjemah firman Tuhan dengan melafalkan bergaya mantra,
"Firman-Nya kepada Musa Alaihis Salaam. Pergilah engkau menjumpai Fir'aun yang telah melampaui batas, dan tanyakan padanya apakah ia mau memperbaiki dan mensucikan dirinya. Maka akan Kubimbing ia menuju Tuhan-Nya".
Begitu sosok itu membuka bacaannya pada malam hari itu disambut tepuk tangan meriah dari penonton yang sengaja hadir maupun orang yang lalulalang kemudian berhenti untuk menyaksikan sebuah pertunjukan monolog-puisi yang dilakukan oleh seorang pegiat seni dan budaya muda kota Tegal, Nur Sidik yang biasa dipanggil dengan nama teater Senksonk.
Kemudian Senksonk berdiri melanjutkan pertunjukannya dengan melepas ikatan rambut panjangnya yang terurai sambil berteriak,
"Aku adalah Fir'aun jika yang aku utamakan adalah kepentingan pribadiku,
aku adalah fir'aun jika yang aku utamakan adalah kesenangan mataku melihat keindahan taman-taman bunga didepankuku dan kesenangan pribadiku tanpa melihat jerit tangis rakyat yang menjerit kelaparan, menjerit ketidakadilan yang dilakukannya, rakyat menjerit ketika matapencahariannya dibatasi dengan portal.
Jika demikian watakku, pola pikir dan arah tujuanku, maka aku adalah.....
yang seketika disambut warga dengan teriakan bersama-sama, FIR'AUN!!!
Aplaus tepuk tangan menggema dari ratusan warga yang memadati jalan Pancasila tersebut berdecak kagum atas penampilan pembuka Senksonk pada malam hari itu.
Setelahnya, dia membacakan secara berturut-turut 2 buah puisi karya WS. Rendra yang berjudul Sajak Orang Kepanasan dan Sajak Mata-mata, serta sebuah puisi karya Wijhi Tukul yang berjudul Sajak Suara.
Pertunjukan monolog-puisi yang dilakukan Senksonk pada Sabtu malam itu merupakan rangkaian acara "Doa bersama warga menolak portal", yang diselenggarakan warga disekitaran Alun-alun kota Tegal yang merasa sangat kesusahan akibat pemortalan jalan yang dilakukan oleh pemerintah kota Tegal.
Senksonkpun setelah pertunjukan berbicara didepan awak media. Dia menjelaskan bahwa akses jalan dibatasi sedemikian rupa tanpa mengindahkan kepentingan orang banyak. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kota Tegal tanpa kajian matang dan terkesan membabi buta.
Kemudian dia melanjutkan bicaraya dengan gaya stand-up comedy,
"Seyogya'y hal ini tidak akan terjadi jika Walikota tidak memakai kebijakan "Sandal Selen"..
Cerita'y seperti ini: Pak Walikota dg santainya memakai sepasang sandal, namun "Selen", alias beda warna maupun bentuk.. Yaa seperti contoh; Kaki kanan memakai sandal Lilly, kaki kiri memakai sandal Swallow.. Jelas ini nggak sinkron blass...
Lalu ketika ada warga yg memperingatkan, "pak Wali, punten, sandal'y keseliru. Naah malah beliau mbentak2 warga yg memperingatkan tersebut sambil berucap, "Raimu biasa nyeker bee ngerti apa??!! Kye sandal sing tak nggo wis bener boll.. Matamu??!!!"
dia mengakhiri sesi pertanyaan dengan tepuk tangan dan tertawanya warga yang melihat wawancara tersebut.
***
(Senksonk : Penulis adalah salah satu seniman muda Kota Tegal)