Blakasuta ke empat dengan tema Bedah Puisi Gestur, bertempat di Rumah Literasi Waskita, Jumat kliwon 10 Desember 2021.
Hadir pembahas, Ibu Endang Sri Witanti (Guru bahasa SMAN2 Brebes), Dr.Tri Mulyono (Dewan Kesenian Pemalang) Lukman Al.Farid, M.Pd (Dewan Kesenian Pemalang) Atmo Tan Sidik (Budayawan), Dr.H.Maufur Marghub Abdul Azis MPd (Rektor Universitas Bhamada), Retno Kusrini (Penggagas Puisi Gestur). Pemantik Hendri Yetus Siswono (Penyair).
Hadir pula Seniman dan Penyair dari perwakilan 4 daerah : Apito Lahire (Tegal) Lebe Penyair Agus Tarjono SH, Zarra Zetira (Brebes) Wahyu Ranggati, Dyon Dyionk Sudiono (Slawi) Danny Padmadisastra, Jabo Merdeka (Cirebon), teater Gong MA NU 3 Asuhan abah Sulawestio serta santri dari yayasan Roudhotut tholabah.
Suasana Rumah Literasi Waskita, hujan sejak sore hingga habis isya, sedang panggung sudah berdiri sejak siang. Menjelang pukul 19.30 hujan reda, acara dibuka oleh ustad Udin sebagai tuan rumah. Selesai sambutan, lantas dari barisan penonton terdengar lantunan adzan, seorang santri berjalan menuju panggung sambil melantunkan adzan.
Lalu dari kanan dan kiri panggung terdengar sahut-sahutan suara adzan kemudian dua anak santri menuju panggung. Hadirin dikepung suara adzan, lantas seorang santri usia belasan masuk ke panggung dan membacakan puisi Dzikir karya D. Zawawi Imron.
Itulah opening art acara Blaksuta#4. Hadirin dibuat tercengang dan tepuk tangan bergemuruh seusai pembacaan puisi dari santri. Pentas selanjutnya tarian teater Gong dari MANU 3 Brebes.
Diskusi dimulai, namun amat disayangkan dua pengagas 'Puisi gestur' yakni Apas Khafasy dan Gus Mi tidak hadir, tiada konfirmasi apa pun yang disampaikan kepada panitia Blakasuta. Bu Retno Kusrini mempresentasikan puisi gestur, yakni semacam deklamasi dengan disertai gerak-gerak.
Menurut pak Tri, jika puisi gestur harus diartikan sebagai puisi yang cara pengapresiasiannya dengan dibacakan disertai gerak (tubuh) isyarat pembaca atau orang lain, maka sebagai sebuah teks puisi, puisi gestur harus memiliki ciri-ciri tertentu yang menggambarkan sebagai puisi gestur. Karena gestur berarti gerak-isyarat, maka ciri-ciri itu harus berkaitan dengan gerak tubuh yang berarti berhubungan dengan citraan kinestetik. Kalau ingin diakui sebagai genre puisi, mestinya puisi gestur memiliki tiga ciri di dalamnya, yaitu kode bahasa, kode sastra, dan kode budaya.
Kode bahasa harus terdapat di dalam puisi apa pun karena media ekspresi puisi adalah bahasa. Bisa bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah. Kode sastra mengandung pengertian bahwa puisi gestur mengacu pada konsep deotomatisasi, bermakna konotatif. Sementara itu, kode budaya harus berkaitan dengan gestur yang ada pada puisi gestur, yaitu gerak dan isyarat yang ada di dalamnya haruslah sesuai dengan budaya yang ada pada puisi itu dimasyarakatkan, karena gerak yang sama bisa bermakna berbeda sesuai dengan latar budaya yang bersangkutan.
Jika puisi gestur ingin diakui sebagai sebuah puisi, jenis puisi tersendiri,maka sebagai syaratnya adalah harus ada wujudnya, harus ada teksnya yang berbeda dengan teks puisi jenis yang lain.
Bu Retno mengatakan ciri puisi gestur, adalah :
1. Puisi yang dibacakan dengan cara digestur
2. Isi dari puisi harus bercerita.
Maka yang jadi pertanyaan adalah
Bukankah setiap pembacaan puisi hampir seluruhnya menggunakan gerak untuk memperkuat makna puisi dan juga sebagai seni pertunjukan? Lantas apa yang membedakan pembacaan puisi dengam puisi gestur?
Kedua, ciri puisi gestur harus bercerita, bukankah dalam puisi modern puisi bercerita sudah banyak misal dalam puisi-puisi balada. Lantas hal baru apa yang mau di tampilkan? TIDAK ADA.
Apa yang dikatakan adanya puisi gestur, itu hanya mengulang-ulang apa yang selama ini sudah ada dan terjadi dalam seni baca puisi mau pun seni deklamasi. Parahnya pengagas ini tidak banyak tahu tentang perkembangan puisi, seni membaca puisi, dan seni deklamasi sehingga secara serampangan membuat klaim lahir puisi gestur.
Sebagai gagasan 'puisi gestur' masih berupa sekadar igauan saja jadi tak perlu juga diributkan. Maka dari awal saya bilang dengan istilah pengagas Puisi Gestur', cukuplah sampai di sini saja, percuma membicarakan sebuah igauan.
Itulah kesimpulan saya malam itu dalam Bedah Puisi Gestur, yang dua pengagasnya tidak berani tampil dan mempertanggungjawaban gagasannya dalam forum Blakasuta. Kuk baa.
Setelah diskusi yang yang tidak sampai klimaks itu, karena ketidakhadiran dua pengagagas 'puisi gestur' acara dilanjutkan dengan tampilan penyair membumikan seni baca puisi di bumi Brebes.
Hendri Yetus Siswono tampil membacakan 'puisi mantra' dari Sutardji Calszoum Bachri yakni AMUK, puisi panjang 24 halaman, selanjutnya Penyair Ngebyak Apito Lahire membacakan 3 puisi satu puisi Rendra dan 2 puisine dewek.
Malam semakin panas dan bergairah cuaca cerah ikut mendukung perhelatan Blakasuta#4. Banyak penyair tampil, aura panggung begitu menyedot setiap yang hadir untuk tampil. Mas Lulu tampil memukau dengan vokal yang prima monolog dongeng Padhang Bulan.
Kemudian Lebe Penyair malam ini membaca puisi tentang kematian, sebuah pentas baca sajak yang menyihir. Intensitas dan aura kepenyairannya muncul, ada energi hutan Malahayu dalam tiap tarikan nafas dan getar suaranya, yakni hutan tempat penyair ini berlatih khusus untuk tampil di BLAKASUTA.
Alhamdulillah acara lancar dan terimakasih pada semua yang hadir dan alam raya yang ikut mendukung pentas BLAKASUTA. Semoga niat baik ini membuahkan hasil yang baik.
Salam budaya
BLAKASUTA
***
Penulis merupakan pegiat budaya di komunitas Blakasuta