Oleh: Abdullah Sungkar, M.T
Peminat Urban Design Study (Studi Perancangan Kota), alumni Magister Teknik Arsitektur UNDIP
Dimana parkir?
Bagi pengendara mobil menemukan tempat parkir tidak selalu menjadi pekerjaan mudah dan nyaman. Ambil contoh lagi jalan Malioboro yang lagi jadi favourit banyak walikota.
Malioboro selalu ada di benak wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, tentu menumpang angkutan umum atau kendarai mobil pribadi. Pengalaman penulis mencari tempat parkir di sekitar Malioboro Mall selalu menjadi upaya yang melelahkan.
Gedung parkir penuh dan untuk dapat parkir di jalan Perwakilan kadang harus dua kali memutar jalan Mataram. Itu pun dengan tarif yang tidak murah.
Memilih tempat parkir bukan sekedar menempatkan dan meninggalkan mobil. Ada beberapa variable preferensi tempat parkir. Pertama, pengunjung ingin mobilnya tetap terlihat sementara dia beraktifitas.
Semakin dekat semakin disukai dan semakin tinggi rasa aman terhadap mobilnya. Kedua, jarak antara tujuan berjalan kaki dan tempat parkir tidak terlalu jauh. Ketiga, lingkungan parkir yang menyenangkan, aman, dan nyaman.
Preferensi tempat parkir bagi pengunjung seperti uraian di atas, hendaknya menjadi design concerns bagi para birokrat perencana. Jika tidak, maka tingkat okupansi parkir optimum sulit dicapai.
Bahkan banyak gedung parkir yang suwung, karena pemilik mobil lebih suka parkir sesuai persepsinya terhadap lingkungannya. Ini tidak saja merugikan investasi gedung parkir, tapi juga kesulitan dalam pengendalian aktifitas berlalu lintas di ruang publik.
Mengukur kebutuhan lahan parkir
Mengukur kebutuhan lahan parkir bukan persoalan mudah yang dapat begitu saja disederhanakan. Diperlukan riset yang memadai untuk membuat prognosis kebutuhan lahan parkir.
Kebutuhan lahan parkir ini akan semakin sulit diukur pada kawasan yang saling terhubung (interconected). Untuk satu ruas jalan yang pedestrianized (dikhususkan untuk pejalan kaki), maka semakin rumit mengukur luasan lahan parkir yang dibutuhkan.
Ini karena para pengemudi harus meninggalkan mobil atau sepeda motornya untuk melanjutkan aktifitasnya dengan berjalan kaki.
Citra satelit terlampir menunjukkan kerapatan areal terbangun pada koridor jalan A.Yani kota Tegal yang dirancang pedestrianized. Apakah pemkot Tegal sudah mengukur kebutuhan lahan parkirnya secara ilmiah? Tentu hanya Walikota dan staffnya yang tahu saat ini.
Desain jalan A.Yani menunjukkan lahan parkir pada badan jalan. Perlu dihitung juga jika A.Yani akan dihubungkan dengan alun-alun, jalan Pancasila, dan Taman Pancasila.
Dalam kondisi lalu lintas harian normal sesuai kapasitas jalan, mungkin parkir belum akan jadi masalah. Tapi pada high season, maka masalah parkir dapat diduga akan menjadi masalah.
Mungkin saat ini pemkot Tegal harus sudah berhitung prediksi volume lalu lintas dan menghitung kebutuhan lahan parkir. Sayang sekali jika kawasan yang sudah dibangun ternyata kurang diminati pengunjung, hanya karena kesulitan mencari tempat parkir.***