Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

BlackBerry Riwayatmu Kini, Sejarah dan Jatuhnya si Keyboard QWERTY. Ternyata ini Penyebabnya

Andri Susanto•
Warung Pojok

SuaraPantura.com - BlackBerry mengumumkan memberhentikan layanannnya pada 4 Januari 2022 lalu.

Pengguna BlackBerry kini tidak dapat lagi mengakses internet, mengirim pesan, melakukan panggilan dan panggilan layanan darurat.

Tahun 2022 merupakan akhir dari BlackBerry yang pernah jaya pada masanya dengan andalan keyboard QWERTY dan pesan instan yang canggih.

Meski BlackBerry melakukan adaptasi pada era smartphone, namun mereka mengalami kesulitan beradaptasi mengejar Android dan iOS.

Hingga akhirnya BlackBerry memutuskan menyerahkan detail perangkat ke TCL, perusahaan pembuat alat elektronik konsumen asal Tiongkok yang berkantor pusat di Huizhou, Guangdong.

Meski BlackBerry sempat merilis sebuah Operating System (OS) baru yakni BlackBerry 10 yang mendukung layar sentuh melalui BlackBerry Z10, namun hal tersebut tak mampu meraih simpati pasar yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Android dan iOS.

BlackBerry 10 ini juga bukan yang pertama, sebelumnya mereka mengeluarkan BlackBerry Storm. Namun bisa dikatakan ini merupakan produk gagal BlackBerry. Feed back yang mereka dapatkan tidaklah sesuai harapan.

Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi
Baca Juga · Warung Pojok
Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi

Sebelum beralih ke layar sentuh, BlackBerry pernah mengeluarkan BlackBerry 5 yang dirancang menggunakan navigasi trackball. Berikutnya datang Storm 2, yang menghapus tombol fisik dan mencoba memalsukan perasaan klik, tetapi ini juga gagal menarik perhatian positif dari calon pembeli.

Beberapa tahun kemudian BlackBerry mencoba melakukan pendekatan lain dengan mengeluarkan seri Bold Touch mempertahankan keyboard QWERTY perangkat keras, tetapi menambahkan dukungan sentuh ke layar.

Dengan versi 7 buntu, BlackBerry banting stir memusatkan perhatiannya pada BlackBerry Tablet OS. Lalu BlackBerry memulai debutnya di tablet pada 2010, khususnya BlackBerry PlayBook.

Selain versi 3G pada tahun 2011 (apalagi nama "4G", HSPA adalah 3G) dan versi 4G LTE yang tepat pada tahun 2012, BlackBerry tidak pernah membuat tablet lain. Tetapi OS tablet tetap hidup, setidaknya sebagian.

BlackBerry 10 OS yang hadir dengan Z10, juga didasarkan pada QNX dan ditingkatkan pada ide dari Tablet OS yang sebenarnya Playbook yang diperbarui ke versi 10.

Setelah BlackBerry Z10 muncul BlackBerry Q10, ini dilakukan BlackBerry untuk menyasar pengguna kelas menengah, namun lagi-lagi upaya ini gagal. Kemudian BlackBerry mengeluarkan seri yang lebih murah, BlackBerry Q5, namun bernasib sama.

Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya
Baca Juga · Warung Pojok
Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya

Tidak berputus asa pada 2013 BlackBerry mengeluarkan BlackBerry Z30 yang menambahkan layar yang lebih besar (5.0" AMOLED) dibandingkan dengan Z10, chipset Snapdragon S4 Pro yang lebih cepat, baterai yang lebih besar, dan peningkatan lainnya.

Selain itu mereka banyak berharap juga pada BlackBerry Passport. Namun BlackBerry Passport yang berdesain 1:1 ini sangatlah aneh. apalagi dengan ukuran cukup lebar yang harus dipegang menggunakan dua tangan bukanlah konsep smartphone kekinian.

Ide lain yang dilakukan BlackBerry adalah dengan BlackBerry Priv . Ini adalah BlackBerry pertama yang menjalankan Android dan sekaligus menjadi BlackBerry terakhir. DTEK50 dan DTEK60 yang datang pada tahun berikutnya dikembangkan bersama dengan TCL dan untuk model setelah itu TCL menangani desain dan manufaktur perangkat kerasnya sendiri.

BlackBerry Priv jauh lebih masuk akal dalam desain dan dimensi. Priv memiliki akses penuh ke Google Play Store., tetapi itu tidak lagi memiliki daya tarik di tengah bermunculan dan banjirnya produk smartphone.

Dikutip dari sekolah bisnis Harvard, setidaknya ada 4 poin kesalahan utama BlackBerry.
1. Lambat merespon persaingan pasar.
BlackBerry dianggap meremehkan kehadiran layar sentuh dan lambat bergeser dari keyboard WERTY kebanggaan mereka. Hal ini menyebabkan kegagalan mengejar tuntutan layar ponsel yang makin besar.

2. Salah memahami nilai ponsel
BlackBerry dianggap selalu menilai ponsel sebagai alat kerja dan tidak melihat nilai tambah ponsel bagi kebutuhan personal. Mereka terlalu teknis pada kecepatan dan keamanan.

MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026
Baca Juga · Warung Pojok
MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026

3. Mengabaikan daya beli masyarakat bawah
BlackBerry dinilai terlalu fokus pada korporat, tidak menyadari potensi hiburan dan permainan. Mereka juga melupakan daya beli masyarakat bawah yang membuat BlackBerry makin kekurangan pengguna dan pasar.

4. ekseusi produk yang lemah
BlackBerry dianggap lambat mengembangkan produk sehingga fitur dan kinerja produknya kalah bersaing di pasaran. Selain itu mereka tidak memberikan insentif pada pengembang aplikasi, sehingga developer enggan bersahabat dengan BlackBerry.

Kini BlackBerry yang dulu pernah jaya telah tiada. Menjadi pelajaran pentingnya melakukan upgrade dan tidak terlalu percaya diri dengan hasil yang diraih.

Keyakinan si empunya BlackBerry, Jim Balsillie, akan tetap bertahannya BlackBerry dengan keyboard WERTY nya runtuh sudah.

Terima kasih BlackBerry, telah memberikan warna pada dunia smartphone. Selamat jalan BlackBerry, rest in peace.***

Tags:
#blackberry#jim balsillie
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…