Gender dalam Perspektif Masyarakat di Lingkungan Keluarga
Andri Susanto•
Warung Pojok
Oleh:Asyfa Suryani Pegiat LPM Tanpa Titik IBN Tegal
SuaraPantura.com - Kata Gender tidak dapat disamakan dengan Sexs. Sexs merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu.
Contohnya jelas terlihat, seperti laki-laki memiliki penis, scrotum, memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki vagina, rahim, memproduksi sel telur.
Alat-alat biologis tersebut tidak dapat dipertukarkan sehingga sering dikatakan sebagai kodrat atau ketentuan dari Tuhan (nature), sedangkan konsep gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural.
Misalnya, laki-laki itu kuat, rasional, perkasa. Sedangkan perempuan itu lembut, lebih berperasaan, dan keibuan. Ciri-ciri tersebut sebenarnya bisa dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang lembut dan lebih berperasaan.
Demikian juga ada perempuan yang kuat, rasional, dan perkasa. Perubahan ini dapat terjadi dari waktu ke waktu dan bisa berbeda di masing-masing tempat. Jaman dulu, di suatu tempat, perempuan bisa menjadi kepala suku, tapi sekarang di tempat yang sama, laki-laki yang menjadi kepala suku.
Sementara di tempat lain justru sebaliknya. Artinya, segala hal yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari suatu kelas ke kelas yang lain, komunitas ke komunitas yang lain, dikenal dengan gender.
Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar menempati urutan keempat dunia.
Posisi kuantitas masyarakat perempuan dan laki-laki tidak serta merta menjadikan peran dan keterlibatan mereka dalam bermasyarakat dan berkeluarga berbeda, apalagi mendapatkan ketidakadilan.
Berbicara tentang kesetaraan gender, tidak terlepas dari peran laki-laki maupun perempuan. Banyak masyarakat yang belum memahami pengertian gender yang sebenarnya.
Sehingga banyak diskusi tentang gender di berbagai platform media sosial seperti yang paling populer facebook dan twitter berakhir dengan mencampur adukkan peran dan kodrat antara laki-laki dan perempuan.
Masyarakat menganggap gender dan sexs merupakan hal yang sama. Padahal nyatanya jelas berbeda. Mereka beranggapan bahwa perempuan dengan feminisnya dan laki-laki dengan maskulinnya.
Jelas sebenarnya tidak, antara perempuan dan laki-laki bisa di sama ratakan. Misalnya saja, perempuan dapat berpendidikan tinggi seperti seorang lelaki, perempuan dapat menjadi pemimpin, dan sebagainya.
Tidak melulu perempuan itu hanya soal dapur, sumur, kasur saja. Namun demikian, meskipun mereka tidak dapat memahami secara tuntas mengenai gender, sebenarnya praktik penerapan kesetaraan gender telah banyak dilakukan, misalnya saja dalam lingkup kecil yaitu keluarga.
Implikasi kesetaraan gender di lingkungan keluarga
1. Perempuan memperoleh hak yang sama dalam pendidikan. Pemenuhan pendidikan sudah banyak diterapkan masyarakat untuk keluarganya. Di era sekarang, sudah banyak perempuan yang berpendidikan tinggi, sekolah sampai ke jenjang doktor, sama halnya dengan apa yang didapatkan laki-laki.
Berangkat dari persepektif masyarakat yang menganggap bahwa pendidikan adalah investasi dan warisan paling besar untuk anak-anaknya sehingga menjadikan tidak adanya kesenjangan antara perempuan dan laki-laki.
Namun, hal ini tidak dapat dipukul rata, di beberapa wilayah tertentu, masih banyak terjadi ketidakadilan antara perempuan dan laki-laki. Lagi-lagi perempuan hanya ditempatkan pada ruang lingkup kecil, yaitu dapur, sumur, dan kasur saja.
Oleh karena itu pengetahuan tentang gender harus diberikan dan diinformasikan secara tuntas kepada masyarakat guna mengurangi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan.
2. Pembagian secara merata tugas domestik dalam keluarga Adanya pembagian tugas domestik secara merata merupakan perwujudan dari kesetaraan gender.
Tugas nyapu, nyuci, ngepel, dsb bukan hanya diperuntukkan bagi mereka kaum perempuan saja, tetapi bagi mereka laki-laki pun bisa melakukannya. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan berkeluarganya.
3. Kebebasan berekspresi, mengambil keputusan, dan mengeluarkan pendapat Dalam berkeluarga, tentu ada ruang diskusi di dalamnya. Hal yang biasa dilakukan adalah berdiskusi untuk memperoleh suatu keputusan. Dari diskusi tersebut, banyak diperoleh pendapat-pendapat dari anggota keluarga itu sendiri. Setiap anggota keluarga berhak menyampaikan pendapatnya serta memutuskan pilihannya.
Jika hal ini terus dilakukan, maka dapat mendorong berlangsungnya kesetaraan gender. Namun perlu kita sadari, kesetaran tersebut juga belum diterapkan secara sempurna oleh masyarakat.
Dampak Kesetaraan Gender dalam Keluarga Secara umum dampak kesetaraan gender dalam keluarga dan masyarakat itu baik (positif), asalkan diimbangin dengan penanaman yang kuat mengenai sifat kodrati perempuan dan nilai-nilai agama. Lebih luas lagi misalnya :
a. Anak perempuan lebih merasa dihargai dan tidak direndahkan di lingkup keluarganya
b. Anak perempuan dapat membantu perekonomian orang tuanya, karena ia dapat bekerja
c. Orang tua mendapatkan ketenangan batin karena sudah memperlakukan secara adil
d. Anak perempuan merasa terlindungi
Kesetaraan gender dapat berawal dari hal-hal kecil yang dibangun dalam keluarga. Kesetaraan gender dalam keluarga penting untuk dilakukan sebagai penanaman komitmen tanggungjawab bersama dalam keluarga antara laki-laki dan perempuan.
Oleh karena itu pendidikan keluarga berwawasan gender dapat dilakukan sebagai salah satu cara untuk meminimalisir ketidaksetaraan gender di masyarakat.
Pendidikan keluarga berwawasan gender harus diimbangi dengan penanaman nilai agama dan sifat kodrati perempuan, agar kesetaraan gender yang dipahami dalam keluarga tidak berlebihan.
Karena pada hakikatnya perempuan yang berdaya merupakan perempuan yang mampu secara mandiri tetapi tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan.***