Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Saya Perempuan, Tapi Langganan Pulang Malam. Emang Kenapa?

Andri Susanto•
Warung Pojok

Oleh: Asyfa Suryani
Pegiat LPM IBN Tegal

SuaraPantura.com - Stigma masyarakat yang mengaitkan perempuan, pulang malam, dan norma kesusilaan yang masih kental masih saja melekat meski zaman sudah berkembang pesat.

Yaah, hal itu mungkin banyak ditemui di daerah pedesaan, khususnya mereka yang masih memegang teguh adat istiadat.

Bercermin pada diri saya sendiri, seorang mahasiswa di perguruan Islam yang terletak di Kabupaten Tegal. Mahasiswa Hukum Keluarga Islam, yang mana masyarakat menaruh stigma bahwa mahasiswa adalah hal yang takjub, namun kerapkali dinilai tak sesuai dengan realita.

Dalam kehidupan bersosial saya banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Yah, bisa dikatakan saya bukan anak rumahan. Intensitas saya di luar rumah lebih banyak dibandingkan saya diam diri di rumah.

Setiap kejadian musti memiliki hukum kausalitas, sebab akibat, dan alasan. Termasuk alasan saya selalu pulang malam. Kehidupan di kampus sangatlah random (acak-red), beraneka ragam, dan beraneka rasa.

Kebetulan, saya seorang mahasiswa kelas sore yang selesai mata kuliahnya petang. Ditambah lagi, saya memutuskan untuk bergabung di beberapa organisasi yang tentunya banyak menghabiskan waktu.

Dunia perkuliahan dan organisasi semakin asik untuk dilalui, sepulang mata kuliah saya singgah di sekretariat UKM yang memiliki ruang persegi dengan karpet dan parabotan seadanya.

Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi
Baca Juga · Warung Pojok
Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi

Bak naluri yang sudah menyatu, saya merasa nyaman dan enjoy berada di ruang itu. Biasanya, seusai mata kuliah saya mengikuti rapat, diskusi, atau sekadar baca buku dan menyanyi bersama teman-teman. Tak disadari, hari-hari yang dilalui itu membentuk kebiasaan baru. Ya, kebiasaan pulang malam.

Jarak antara kampus dan rumah cukup jauh, menghabiskan waktu 30-40 menit untuk perjalanan. Ditambah lagi kondisi cuaca yang berbeda antara kampus dan rumah menjadi salah satu alasan untuk malas pulang.

Sebenarnya bukan malas untuk di rumah, tapi malas untuk melakukan perjalanan dengan mengendarai sepeda motor sembari menembus dinginnya angin.

Kebiasaan tersebut juga dilatar belakangi kemampuan saya untuk bepergian. Saya lebih mampu dan lebih menikmati perjalanan malam, malam hari adalah waktu yang tenang untuk berkegiatan.
Misal saja, kita hendak pergi jalan-jalan mengelilingi kota. Lebih enak mana? Siang hari atau malam hari? Sebagian besar orang menjawabnya malam hari.

Malam adalah candu bagi banyak orang, termasuk saya. Malam hari juga merupakan suasana yang apik untuk berdialog, berdiskusi, atau bahkan sekadar menikmati kopi.

Namun, seiring berjalannya waktu hal itu menjadi polemik dan usikan tersendiri. Sebab, tetangga mereka justru tidak tenang dan tidak tentram dengan kebiasaan pulang malam saya.

Entah bagaimana prosesnya, ketika saya pulang malam selalu ada yang tahu bahkan melihat. Padahal, saya rasa malam itu begitu sepi. Keesokan harinya, obrolan dari mulut ke mulut akhirnya terdengar.

Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya
Baca Juga · Warung Pojok
Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya

Misal saja "eh si ini nih, jam 10 malam baru pulang, ngapain aja sih" Atau, "anak perempuannya si A, pulangnya malem terus jangan-jangan dia jadi wanita malam".

Dan masih banyak lagi jika harus diuraikan satu per satu. Padahal yang saya lakukan adalah banyak kegiatan di kampus, atau sekadar bermain bersama teman-teman di waktu malam itu.

Standarisasi masyarakat mengenai pola dan perilaku sangatlah minim jika hanya dinilai dari salah satu kebiasaan hidupnya saja. Yang mana kebiasaan hidup itu adalah kebiasaan yang dianggap buruk, misal saja kebiasaan pulang malam.

Padahal, kita bisa melihat kebiasaan yang baik, misal senang membantu, senang berbagi, ramah, maupun yang lainnya. Namun yang menyedihkan adalah hal buruk selalu mudah dipandang ketimbang kebaikan.

Awalnya, perbincangan yang cenderung lebih banyak buruknya tentu mengganggu saya. Terutama orang tua dan keluarga. Mereka akhirnya banyak memberikan teguran atau peringatan.

Namun, ketika orang tua faham tentang pilihan hidup seorang anaknya, maka di situlah pintu jalan terbuka. Sampai akhirnya, orang tua saya tidak lagi banyak menerima dan mengolah stigma buruk masyarakat di sekeliling tempat tinggal.

Bagi kami, semua itu hanya bumbu dan angin yang berhembus saja. Namun, menemukan kebebasan bukan berarti tidak memiliki batasan. Setelah saya menikmati kebebasan hidup di lingkungan mahasiswa dan organisasi, saya juga memiliki batasan yang harus saya lakukan.

MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026
Baca Juga · Warung Pojok
MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026

Saya tetap menjaga agar tidak pulang larut malam, atau memberi batasan agar jam 10 malam saya sudah sampai di rumah. Hal tersebut tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Setelah bergelut dengan dunia mahasiswa dan organisasi, rasa penasaran dengan dunia baru belum terpuaskan. Akhirnya, saya mencari sampingan. Tapi, sampingan ini bukan seperti yang mereka fikirkan. Saya tidak open BO, dan tidak pula menjadi wanita malam.
Ya, saya akhirnya bekerja di sebuah cafe and resto, awalnya hanya sebatas waiters. Namun di beberapa bulan kemudian saya sudah mulai menjadi kasir bahkan membuat beberapa menu yang disediakan.

Dunia malam yang ada dalam kehidupan saya masih berkembang, ditambah lagi dunia kerja perkopian yang cenderung menghabiskan waktu malam. Biasanya, pukul 00.00 saya baru menginjakkan kaki kembali di pintu rumah. Ya, malam itu saya bekerja mencari receh yang mungkin bisa membantu untuk membeli bensin dan jajan.

Namun stigma masyarakat juga masih berlanjut, sepertinya pulang malam menjadi predikat buruk yang harus diperoleh oleh seorang gadis. Entah apa yang ia lakukan tanpa banyak orang lihat, pulang malam merupakan hal yang melanggar adat istiadat dan norma kesusilaan.

Kita bisa saja diklaim wanita yang tidak baik, wanita nakal, atau remaja tidak wajar oleh masyarakat hanya dengan satu hal, yaitu pulang malam.

Adanya hal ini, kita sebaiknya tidak dengan mudah memberi penilaian atau stigma kepada sesama manusia di muka bumi ini. Kita harus berhati-hati terhadap apa yang kita sampaikan.

Sebab, apa yang keluar dari mulut kita bisa saja benar bisa saja salah. Tidak perlu membuat standarisasi tentang moral maupun budi pekerti secara sempit, karna hal itu bisa kita wujudkan secara luas.

Mari mendewasakan diri, memanusiakan manusia.***

Tags:
#malam#pulang#wanita#stigma
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…