SuaraPantura.com - Hari ini, Senin 21 Februari 2022 sampai tiga hari ke depan, para produsen tahu dan tempe di pulau Jawa dikabarkan mogok produksi.
Hal ini dikarenakan harga kedelai yang membubung tinggi sehingga para produsen tersebut melakukan protes kepada Pemerintah.
Sebab persoalan dilematis tengah dihadapi produsen tahu dan tempe ini. Disisi lain mereka dituntut masyarakat untuk menghadirkan produk berkualitas dengan harga murah, namun disisi lain harga bahan bakunya tengah mahal.
Jika menaikkan harga jual tahu atau tempe, para produsen takut daya beli masyarakat menurun.
Akhirnya mereka meminte Penerintah segera turun tangan mengendalikan keadaan ini segera.
Para produsen melakukan mogok produksi selama tiga hari kedepan. Jika Pemerintah tidak juga mampu mengendalikan keadaan, maka terpaksa para produsen ini akan menaikkan harga jual tahu dan tempe ke konsumen.
Kondisi tidak menentu itu seperti terjadi secara berurutan, baru saja masyarakat mengeluh karena sulit mendapatkan minyak goreng di pasaran, kini mereka dihadapkan dengan harga tahu dan tempe yang terancam naik.
Nah terkait salah satu alasan tentang kenaikan harga kedelai ini sungguh sangat menggelitik.
Menteri Perdagangan menyatakan selain keterbatasan suplay kedelai di Dunia, juga ada ancaman dari para peternak babi di China.
Menurut Mendag, Di China awalnya peternakan babi yang tadinya tak makan kedelai. Sekarang makan kedelai.
Babi China kali ini menjadi kambing hitam mahalnya harga kedelai di Indonesia.
Ini sekaligus membukan mata publik bahwa pada hari ini, 90% kedelai kita yang selama ini digunakan sebagai bahan baku tempe dan tahu ternyata masih Impor.
Di tanah yang luas dan subur ini, Bangsa Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan Kedelai sendiri.
Eh sebentar, Belum mampu atau belum mau? Apa sudah nyaman impor kedelai dari luar negeri?
Hallo Indonesia, heu heu heu...
***