Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Politik Rumah Tuhan

Lutfi•
Warung Pojok

Oleh :Lutfi AN

SuaraPantura.com - Politik mencemari rumah Tuhan dan penghuninya terkapar terisak sesak. Ini bukan dongeng hari ini saja. Orde baru dulu banyak melahirkan konflik horizontal hingga tempat peribadatan dijadikan panggung sengketa umat demi politik.

Sebuah mushala di dukuh Mangundipuran, di zamannya adalah pemberian wakaf seseorang yang diberikan kepada seluruh umat muslim. Tak kecuali umat nahdliyyah-muhammadiyah bersepakat bersengkuyung saling bahu membahu membangun dan meramaikannya. Nahas, sejak bercokol dua orang politisi berkompetisi dalam pemilihan legislatif mereka saling berebut massa.

Sebut saja Pak Solah dan Pak Soleh keduanya mewakili pertarungan partai Ka'bah dan Beringin. Kebetulan keduanya beda organisasi, Solah Muhammadiyah dan Soleh Nahdlatul Ulama.

Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi
Baca Juga · Warung Pojok
Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi

Kepengurusan mushala menjadi terganggu menyusul Pak Solah dalam ceramah-ceramahnya selalu menyudutkan. Bedug itu bid'ah, qunut itu tidak penting. Tentu umat lain yang pro Pak Soleh meradang.

Keesokan harinya mereka enggan sholat di mushola. Sementara mereka yang pro Pak Solah segera menjalankan perintah anti bid'ahnya denga cara mencari kayu pemukul bedug untuk disembunyikan atau di buang jauh-jauh.

Bedug tanpa pemukul bagai sebatang rokok tanpa korek api, tak ada asap tak ada suara. Mushala sepi dari suara khas mushala para wali. Bedug tak lagi bergaung bertalu-talu. Sebelum suara adzan berkumandang tak seorang bocah pun berlarian berebut tetabuhan yang terbuat dari kulit sapi itu.

Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya
Baca Juga · Warung Pojok
Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya

Pak Soleh tak kurang akal. Sembunyi-sembunyi mengumpulkan jema'ahnya, anak-anak muda untuk memproduksi alat pemukul bedug dari kayu bekas. Dakir seorang pemuda yang dikenal seniman kampung setempat tak mau ketinggalan membikin sensasi.

Pentungan bedug yang dibikinnya agak nyleneh, ujungnya dibikin mirip kelamin lelaki. Masing-masing dibawanya ke mushala dan disimpan kembali di rumah. Gerakan Pak Soleh berhasil membungkam umat Pak Solah.

Merasa kalah, jama'ah Pak Solah bikin geger seantero pedukuhan. Jumuah berkah kini Jumat kualat, tak hanya pentungan tapi bedug sebesar perut gajah hamil tiba-tiba raib. Entah siapa yang memotong dan memindah tempatkan. Bedug tak lagi menggantung dekat kran wudhu.

MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026
Baca Juga · Warung Pojok
MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026

Orang-orang berdatangan ke mushala. kali ini bukan untuk sembahyang melainkan membuktikan kebenaran berita hilangnya bedug. Dua kekuatan massa tumpah ruah saling curiga mencurigai.

"Ini pasti kelakuan orang yang suka membid'ah bid'ahkan bedug. Kalian pencuri bedug!" Teriak Uchong preman kampung seraya mengepalkan tangan.
"Chong, jangan sembarangan kau nuduh orang" potong Kucrit.
"Trus mau apa kamu. Gak terima?!"
Dua massa berseteru saling berhadap-hadapan, mripatnya persis burung hantu, wajahnya memerah seperti terbakar api neraka.

Tak lama berselang pihak keamanan Koramil datang segera meredam suasana. Dihimbau agar umat Islam tidak saling gaduh. Dimohon bisa menjaga situasi kondusif. Danramil memerintahkan anak buahnya untuk membubarkan massa. Lalu membawa dua tokoh berseteru Pak Solah dan Pak Soleh ke Kantor Kelurahan. Massa pun perlahan bubar.

Mushala itu begitu mempesona. Setelah sekian lama vakum, nahdliyyah-muhammadiyyah berseteru, umat pecah ruah, kini menjadi guyub. Tak ada sekat antarsesama mereka bersepakat menutup pintu politik masuk rumah Tuhan. Biarkan Tuhan saja yang berpolitik karena Tuhan maha politik maha rekayasa.
***

Tags:
#opini#pojok baca#politik rumah tuhan
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…