Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Memelihara Anjing dalam TOA

Lutfi•
Warung Pojok

Oleh : Lutfi AN

SuaraPantura.com - Semenjak dahulu kebisingan dan suara kegaduhan di kampung-kampung kota bukan sesuatu melainkan keindahan panorama yang harus bisa dinikmati tiap orang.

Kompetisi suara loudspeaker dari rumah di gang-gang bagian kegemaran masyarakat menikmati lagu gado-gado; tarling hingga house, reage tak membuat pemilik telinga pekak. Semua enjoy-enjoy saja. Bahkan mereka sama berteriak hak azasi orang punya soundsystem.

Kini orang tergeriap saat hak azasi manusia wajib dijunjung tinggi. Tangan berhak mengepal, mripat musti diberikan hak agar keindahan pandangan matanya terjaga dan telinga musti diberikan hak mendengar dengan kehalusan rasa.

Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi
Baca Juga · Warung Pojok
Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi

Bahkan kemaluan pun wajib diberikan haknya untuk tetap pemalu karena di luar itu kemaluan hanya akan menjadi kelamin.

Seringkali kisah hak atas manusia terlempar dari kewajiban-kewajibannya. Sebagaimana tuntutan atas keinginan nafsu yang sulit dibendung.

Kesadaran cinta atas nama kemanusiaan terpaksa larut karena menilai kebenaran mayoritas ada di pihaknya. Kerajaan arogansi musti dinikmati. Kekuasaan dan kesewenang- wenangan menjadi keniscayaan.

Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya
Baca Juga · Warung Pojok
Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya

Tempat ibadah dibangun di atas bantaran sungai tanpa IMB, hantam kromo tak elok sekali pun, pemerintah diam seribu bahasa. Pemangku jabatan berpikir ulang ketika hal itu dilakukan oleh mayoritas pemeluk meski agama dan keyakinan mereka tak mengajarkan arogansi mayoritas minoritas.

Pembiaran ini akan melahirkan sekularisasi dan gerakan radikalisme atas nama agama. Nampaknya negara juga memberikan peluang bagi yang bersembunyi di lingkaran agama mayoritas.

Belakangan geger soal toa. Toa sebuah produk industri dan bid'ah karena Bilal tak menggunakan pengeras suara saat mengumandangkan adzan.

MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026
Baca Juga · Warung Pojok
MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026

Toa seluruh masjid dan mushala dicopot pun tetap saja orang Islam bersholat. Bahkan tanpa penunjuk jam sekali pun tiap muslim sudah hafal kapan mereka akan menunaikan ibadah sholat. Muslim Indonesia sangat ahli dalam melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai hamba.

Hanya saja saya teringat Babah Ong, pemilik toko kain di bundaran Alun alun Tegal. Ong bukan muslim namun dia seorang manusia yang fasih untuk mengucapkan kamsiyah.

Terima kasih itu diucapkan pada wong muslim, bahwa selama ini Babah Ong dapat segera berkemas membuka toko di pagi hari ketika toko-toko lain belum buka, semua berkat suara Toa di masjid Agung.

Tiap adzan subuh berkumandang Babah Ong terbangun dari tidurnya. "Oeh telima kacih ama olang muclim" ujar Babah Ong khas Tionghoa cedal.

Mungkin Babah Ong bersifat kasuistik. Betapa pun suara Toa itu tidak enak di dengar. Problem sekarang, perlukah soundsystem masjid dan mushala meniru tempat karaoke? Suara tidak indah menjadi indah, suara serak jadi serak-serak basah. Barangkali ini yang musti dipikirkan kemenag. Jangan memelihara anjing dalam Toa.
***

Tags:
#opini#tokoh#toa masjid dan mushola#memelihara anjing dalam toa
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…