Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Al Qur'an, Makna dan Mantra

Lutfi•
Warung Pojok

Oleh : Lutfi AN

SuaraPantura.com - Kalamullah dalam mushaf Qur'an disebut kitab suci. Saking sucinya Qur'an seringkali menjadi mitos tanpa dimengerti sebagai Hudan atawa petunjuk. Kumpulan firman Allah lebih cenderung dijadikan mantra ketimbang dipahami sebagai makna.

Abah saya di masa kanak selalu memberikan cara menghalau sebuah ancaman khususnya saat berhadapan dengan seeokor anjing menyalak galak. Beliau mengajarkan agar membaca surat Al-Baqarah -18 yang artinya: "Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)" diikuti tubuh pembacanya berjongkok.

Saya tidak pernah tahu arti dari ayat itu. Kenyataan di luar dugaan, anjing-anjing di lingkungan saya, kebetulan saya hidup di tengah masyarakat plural dan banyak tetangga tionghoa yang memelihara anjing, ayat tersebut dapat memberhentikan gonggongan anjing. Tentu saya semakin yakin, ayat Qur'an ternyata memiliki kekuatan untuk mengusir anjing, bahkan anjing keparat sekali pun.

Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi
Baca Juga · Warung Pojok
Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi

Celakanya setelah dewasa saya berhenti di modul mantra. Media edukasi masa kanak tidak dilanjutkan dengan kesadaran makna. Padahal dalam bahasa lain, Abah tengah mengajarkan ketauhidan pada saya dan hendak berkata janganlah takut selain kepada Allah. Dengan menyebut lafadz Qur'an, diharapkan saya selalu mengingat Allah. Tapi hingga saat ini ketika bahaya mengancam menghadang yang diingat bacaannya bukan Allahnya. Ini kekeliruan saya yang fatal.

Fadzilah seringkali menciptakan syirik khoffi (halus) jika tidak dilanjutkan dengan pemahaman yang lengkap dan sempurna justru akan menggelincirkan pada kesesatan yang nyata. Bacaan menjadi sesembahan baru yang diyakini sebagai kebenaran.

Dalam penelitian Dr.Masaru Emoto, pada bukunya 'The True Power Of Water' menyebutkan, dua jenis air yang sama menjadi berubah kandungan ketika dicaci (negatif) dan yang lain dibacakan dengan kata-kata indah (positif). Dalam penelitiannya menegaskan semesta sebagaimana air dan cermin akan memantulkan sikap dan perbuatan diri kita. Intinya air akan jadi apa saja yang dikehendaki manusia. Bisa jadi air biasa atau air luar biasa. Rasulullah menggunakan media air untuk didoakan dijadikan ashifa (obat).

Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya
Baca Juga · Warung Pojok
Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya

Orang Jepang ini bukan menggunakan lafadz Qur'an, namun air menjadi energi super setelah di bacakan kata-kata yang baik. Bisa dibayangkan, jika air dibacakan lafadz Allah sang pencipta air? Tentu energinya jauh lebih dahsyat.

Kendati pun dasar pemikiran diturunkannya Qur'an bukan berhenti pada pemahaman mantra, karena Qur'an sesungguhnya petunjuk bagi manusia dan orang-orang bertakwa. Tiga tingkatan cara menghatamkam Qur'an; 1. dibaca 2. dipahami dan 3. diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tiap pengasuh ponpes tahfidz Quran selalu mengharapkan santrinya dapat menghafal dan memahami makna Qur'an. Ideal bagi seorang penghafal Qur'an sekaligus pembeda hafidz dengan burung beo. Karena Qur'an dimaknai sebagai Hudan atau petunjuk. Rambu lalu-lintas analogi sederhana Qur'an sebagai petunjuk. Jika hanya dilihat, dibaca tanpa dipahami niscaya driver tetap saja dalam keadaan bahaya. Kendaraan bisa bertabrakan lawan arah karena tak memahami arti rambu verboden.

MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026
Baca Juga · Warung Pojok
MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026

Perubahan maindset ini tentu perlu paradigma kebudayaan keislaman paripurna. Sedikitnya dimulainya menghalau paham, bahwa menghadiri pengajian tanpa mengerti sudah cukup berpahala dan seterusnya. Pembodohan atas doktrinasi keliru segera diberhentikan guna meningkatkan ukhuwah Islamiyyah yang lebih bernilai.

Mencuplik teori Strategi Kebudayaan C.A. Van Peursen terbagi 3 tahapan; mistis, ontologis dan fungsional. Terakhir ini adalah tahapan cara memaknai seluruh komponen yang bersifat benda non benda untuk berhubungan selaras sesuai dengan fungsi. Tahap fungsional ini telah menempatkan diri di luar paham kepungan kekuasaan mitos dan jauh lebih memberikan manfaat pemaknaan.

Pada level ini Qur'an bukan lagi mitos terlebih manuskrip purbakala, diperlukan kajian komprehensif. Bukan saja maknawi tapi dibutuhkan penterjemah dari berbagai disiplin ilmu tak hanya mibatkan ahli fiqh semata. Wallahu'alam bisshowab.

***

Tags:
#makna#mantra#al qur'an
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…