Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Menelisik Pokok Pikiran dan Lapak Dagangan Anggota DPRD, KPK Jangan Tidur!

Desky Danuaji•
Warung Pojok

SuaraPantura.com - Pokok pikiran atau sering disebut Pokir adalah istilah yang digunakan untuk menyebut salah satu kewajiban anggota dewan di daerah untuk menjaring aspirasi di dapilnya.

Hal ini sesuai dengan yang tercantum pada Pasal 55 huruf (a) Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan DPRD tentang tata tertib, disebutkan, Badan Anggaran mempunyai tugas memberikan saran dan pendapat berupa pokok-pokok pikiran DPRD kepada kepala daerah dalam mempersiapkan rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah paling lambat 5 (lima) bulan sebelum ditetapkannya APBD.

Selain menjadi skema tumpang tindih anggaran dengan pola yang sudah dibangun eksekutif, Pokir ini juga berpotensi menjadi ladang korupsi baru di daerah.

Sebab tak sedikit anggota DPRD yang menggunakan Pokir ini sebagai 'Lapak Dagangan' paket proyek. Baik fisik maupun pengadaan.

Pokir dikonversi sebagai paket proyek Penunjukan Langsung (PL) sehingga terhindar dari lelang.

Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi
Baca Juga · Warung Pojok
Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi

Proses ini yang kemudian menjadi transaksi di 'Lapak' DPRD.

Modusnya, biasanya para kontraktor diminta memberi 'fee' kepada anggota DPRD untuk memperoleh paket proyek PL tersebut.

Besaran setoran fee proyek biasanya dari 8-10 persen. Praktik ini di daerah disebut proyek dosen atau sedoso persen dalam bahasa jawa artinya proyek sepuluh persen.

Setelah itu para kontraktor mendapatkan rekomendasi ke SKPD dimana paket proyek ini ditempatkan.

Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya
Baca Juga · Warung Pojok
Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya

Di SKPD terkait, si Kontraktor tinggal mengkonfirmasi saja. Sebab SKPD tersebut sudah punya list paket-paket proyek beserna nama-nama anggota dewan pemilik paket Pokir tersebut.

Praktek korupsi ini jarang terendus KPK karena mungkin dinilai kecil.

Namun jika ditelisik lebih jauh, justru nilainya fantastik dan melahirkan kebiasaan busuk di tataran anggota karena menggarong secara tetstruktur dan berjamaah.

Bagaimana tidak, mayoritas para anggota bermain dalam proyek ini, bahkan bagi-bagi nilai paket dan proyek di tataran anggota Dewan sudah bukan lagi hal yang tabu.

MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026
Baca Juga · Warung Pojok
MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026

Pola ini juga merusak skema pemberdayaan pengusaha UMKM. Proyek penunjukan langsung dengan nilai dibawah 200 juta ini yang seharusnya bisa dinikmati para pengusaha kecil dan UMKM justru diperas di awal.

Mereka diminta setoran fee sebelum mengerjakan proyek. Jelas ini memberatkan para pengusaha kecil.

Maka yang terjadi banyak paket proyek ini dikordinir oleh sindikat koorporasi besar yang sengaja membuat perusahaan-perusahaan kecil spesialis untuk menampung paket proyek ini.

Pola ini sekaligus menjadi pembantaian ekonomi yang masif dan melahirkan kesenjangan kemiskinan yang semakin besar.

Apalagi di daerah miskin ekstrem, praktek ini banyak berkembang biak dan turut melahirkan jurang kemiskinan semakin mengerikan.
***

Tags:
#korupsi#kpk#dprd#pokir#pokir dprd
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…