Oleh : Fadli Hudaya, S.E.I., M.Si.
SuaraPantura.com - Beberapa hari terakhir ini mulai terdengar di telinga dan terlihat di penglihatan kita begitu masifnya berita di media sosial bahwa para mahasiswa sang Agen Perubahan telah bangun dan berteriak atas semua kebijakan politik ekonomi rezim yang menyusahkan rakyat selama ini. Namun jika kita melihat, media-media nasional seakan menutup mata akan perjuangan dari para mahasiswa itu, stasiun TV Swasta seakan menjadi Komprador dan Penghamba bagi rezim yang zalim.
Mahasiswa melalui organisasi pemersatu BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa – Seluruh Indonesia) mulai mengetuk pintu-pintu kekuasaan menagih janji manis penguasa yang tak pernah terbukti, janji yang malah justru terbukti pahit dan getirnya.
Mahasiswa mendatangi istana di jantung kekuasaan dan rumah rakyat di daerah demi memperjuangkan satu suara "Ubah Kebijakan Zholim atau Anda Mundur wawahai Rezim".
Yang mereka lakukan menunjukkan bahwa mahasiswa sang agen pengubah telah siuman dari tidurnya dan telah sadar dari buaian dan tekanan kekuasaan yang tidak menghendaki rakyat cerdas dan mahasiswa sadar telah dibohongi oleh kebijakan kekuasaan yang zholim ini.
Jika mahasiswa secara menyeluruh telah bangkit, maka sebenarnya rezim ini telah berada di ujung kekuasaannya yang konon katanya berencana ditambah 1 periode lagi. Jika seruan mereka dalam kebangkitannya tidak disambut dengan tangan-tangan jiwa yang peduli akan perubahan ke arah yang lebih baik maka kepada siapa lagi rakyat akan menceritakan dan menyampaikan rasa sakitnya dizholimi oleh rezim ini?.
Mahasiswa adalah harapan terakhir rakyat negeri ini, pada diri mahasiswa berkumpul semangat juang, intelektualitas sekaligus kekuatan fisik medobrak, ini adalah amunisi dari sebuah perubahan.
Jika tidak disambut, maka penderitaan dan pembodohan ini akan semakin lama dan tidak tahu kapan akhir kesudahannya.
Wahai Mahasiswa dan Dosen di kampus UNIKAL, UMPP, IAIN Pekalongan, STAIKIP, STMIK WIDYA PRATAMA, ITS NU dan Politeknik Pusmanu dan beberapa kampus di Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan mari kita sambut seruan Mahasiswa BEM SI itu agar panasnya keinginan perubahan ini semakin panas dan semakin panas hingga lokomotif perubahan semakin cepat berjalan.
Anda para mahasiswa yang belum menyambut seruan mereka karena takut dengan kebijakan pimpinan kampus, maka ingatlah bahwa anda dapat hadir tanpa identitas perguruan tinggi anda karena mereka mahasiswa BEM SI tidaklah berharap nama kampus anda dalam mengubah kondisi ini namun butuh fisik anda untuk menopang beratnya perjuangan ini. Biarkan kampus “banci” itu tersadar sendiri kelak jika mereka cerdas dan cemerlang daya nalarnya.
Wahai Para Bapak Ibu Dosen yang bergelar akademik panjang, sambutlah seruan Mahasiswa BEM SI dan gerakkanlah semua mahasiswa anda untuk juga turut menyambut seruan BEM SI ini.
Kapan lagi anda wahai para dosen menjadi pahlawan yang nyata? anda selama ini telah banyak menilai dan menganalisis serta mencari solusi atas semua problem kerakyatan sesuai bidang ilmu anda melalui riset namun belum pernah turun ke jalan meneriakkan kritik dan solusi?
Anda para dosen jangan sampai terlena dengan empuknya kursi kantor dan sejuknya pendingin udara ruangan namun menafikan jeritan rakyat secara keseluruhan karena dampak harga minyak goreng, harga bbm, harga sembako yang naik, dipaksanya vaksin dengan semua ancaman, dibebaninya rakyat dengan berbagai tagihan pajak dan BPJS, dan abainya pemimpin negara pada kesulitan hidup warganya bahkan begitu membohonginya kata dari lisan mereka kepada rakyat demi membenarkan kebijakan zholim mereka.
Sadarlah kita selama ini dibodohi, dicekoki dengan kebohongan dan kamuflase di media komprador dan penghamba kekuasaan itu.
Kami menunggu anda untuk bersama meneriakkan perubahan.
Kita tunggu 11 April 2022 di Jakarta, kita ketuk pintu kekuasaan tiran ini
People Power adalah solusi untuk perubahan,
maju...maju...maju..!!!
***
Penulis adalah Dosen UMPP Pekalongan