SuaraPantura.com - Demonstrasi serentak mahasiswa, pelajar dan berbagai elemen masyarakat pada 11 April 2022 ini menuai banyak tanggapan.
Tanggapan yang baru baru ini muncul adalah tanggapan dari mantan aktivis yang kini menjadi bagian dari kekuasaan.
Mereka berlompa berburu dan mencari muka di depan kekuasaan untuk melanggengkan posisinya.
Tentu saja, kemampuan yang dulu ia dapatkan semasa menjadi aktivis kini Ia gunakan untuk membela dan menjilat kekuasaan.
Narasi-narasi yang dimunculkan pun tak jauh dari kecaman dan penilaian negatif terhadap aksi demonstrasi mahasiswa dan berbagai elemen.
Para mantan aktivis penjilat kekuasaan itu akan marak berkomentar dengan kecakapan vokalnya dihadapan masyarakat dan media.
Mengutak-atik data bergaya ilmiah dan menghalalkan segala dalil yang akan memojokkan aksi gerakan mahasiswa dan masyarakat.
Kue kekuasaan telah meruntuhkan idealismenya dan melupakan dari mana ia dilahirkan.
Ia lupa bahwa dulu dirinya juga berasal dari rahim pergerakan yang sama. Namun seiring waktu kue-kue kekuasaan itu telah merobohkan iman perjuangannya.
Hari ini rasa malu mereka kembali dipertaruhkan. Mengomentari negatif terhadap pergerakan mahasiswa dan masyarakat pada 11 april 2022 inj sama saja mengencingi wajah sendiri.
Masyarakat juga harus memilah-milah sumber informasi. Jika datangnya dari mantan aktivis yang berada di lingkar kekuasaan maka dipastikan bahwa sumber informasi itu adalah penghianatan.
Dukung, bela dan pasang dada lah terhadap aksi gerakan adek Mahasuswa pada 11 April 2022 ini.
Karena yang menggerakkan mereka adalah keresahan dan peluh si miskin saat bersusah payah mengantri minyak goreng.
Tangis si Miskin di bulan Ramadhan yang tak mampu membeli daging. Jerit masyarakat yang dikepung harga pangan yang melambung.
Keserasah itu terakumulai dan menjadi spririt gerakan mahasiswa, pelajar dan seluruh elemen rakyat yang bergerak pada 11 April 2022.
Bagimu Negeri, Jiwa Raga Kami...
Janganlah Anak-anak muda pergerakan, barisan terdepan perjuangan Rakyat.
***