SuaraPantura.com - Baru baru ini dalam narasi media sosial muncul mantan aktivis yang kini berada di lingkar kekuasaan mempertanyakan gerakan mahasiswa yang dinilai salah alamat.
Ia seolah menyalahkan mahasiswa yang mendemo Jokowi tentang isu perpanjangan jabatan presiden 3 periode.
Si mantan aktivis menilai bahwa mustinya yang di demo adalah para menteri yang mengeluarkan statement perpanjangan presiden 3 periode.
Ini merupakan argumen klise yang membela kekuasaan karena hari ini si mantan aktivis itu sedang berada di lingkar kekuasaan.
Itu sekaligus melegitimasi lemahnya kepemimpinan Jokowi atas para menteri.
Para menteri bebas bermanuver di tengah ketidakberdayaan Presiden Jokowi.
Bagaimana mungkin Menteri yang disusun oleh Jokowi, mengutarakan wacana presiden 3 periode sementara presiden tidak tahu?.
Wacana tersebut sudah jelas melanggar konstitusi dan menyakiti hati rakyat.
Sekali lagi, nampak ketidakberdayaan Jokowi yang tak bisa tegas terhadap para Menteri.
Jika wacana itu datang dari para menteri, Pecat saja menteri yang buat gaduh.
Justru ketika Jokowi lembek terhadap para menteri pembuat gaduh tersebut, jangan-jangan malah para menteri sengaja dipasang untuk mengeluarkan statement tersebut sebagai 'tes ombak'.
Sebab kegaduhan yang dibuat para menteri tidak segera mendapat ketegasan dari Presiden.
Kembali ke mantan aktivis, tak usahlah dikau memojokkan aksi mahasiswa. Mereka sedang berdinamika seperti kalian berdinamika dulu.
Jangan lupa kalian berasal dari mana. Meskipun hari ini kalian berada di lingkar kekuasaan, tak perlu menjilat berlebihan, nanti Sariawan!
Heu heu heu...
***