SuaraPantura.com - Sudah menjadi hal yang gampang ditebak, usai aksi besar mahasiswa dengan segala perjuangannya pasti akan dibumbui oleh isu-isu pembusukan pasca aksi.
Hal ini dilakukan oleh para kroni penguasa dan para buzzernya untuk membela mati-matian oligarki yang sedang berkuasa.
Demo yang notabene membela kepentingan Rakyat akan dibiaskan informasinya oleh para buzzer binaan oligarki.
Mereka akan masif menyebarkan informasi negatif tentang demonstrasi, menuduh ada massa bayaran, menuduh ada penyusup dan mem-framing demonstrasi sebagai kerusuhan.
Video-video hoax dipastikan akan banyak diproduksi, mempertunjukan aktor sewanan yang dibayar untuk mengaku sebagai demonstran bayaran.
Mewawancarai orang yang sengaja dipasang sebagai peserta aksi dan di framing dengan mencari celah negatif.
Ini sudah menjadi pola oligarki yang seolah demokratis namun memproduksi sendiri narasi busuk yang mengganggu jalannya ruang demokrasi itu sendiri.
Pembungkaman saluran informasi nurani rakyat dimedia sosial diruntuhkan melalui buzzer bayaran sehingga menimbulkan bias informasi.
Seperti baru-baru ini, demonstrasi 11 April 2022 dipastikan akan dibiaskan dengan kejadian pemukulan oleh sekelompok masyarakat kepada Ade Armando di lokasi aksi.
Militan Jokowi, sekaligus dikenal sebagai buzzer kekuasaan ini tiba-tiba muncul di tengah aksi dan mengaku mensukung aksi mahasiswa.
Masyarakat yang melihatnya pasti tertawa dengan pengakuan tersebut. Apalagi bagi masyarakat yang selalu melihat status dan unggahannya di mesia sosial.
Di media sosial Ia dikenal liar melakukan statement dan penghakiman kepada orang atau para kelompok yang kontra pemerintahan.
Tentu saja, unggahan-unggahannya itu membuat jengah banyak orang dan terakumulai menjadi emosi.Mustinya Ade Armando menyadari itu.
Atau jangan-jangan Kemunculannya di tengah demonstrasi hanya sebagai bagian dari umpan oligarki agar membiaskan perjuangan mahasiswa?.
***