SuaraPantura - Seorang remaja di Procot Kabupaten Tegal tewas usai terlibat tawuran perang sarung yang biasa dilakukan menjelang sahur. Kejadian ini terjadi pada hari Ahad, 10 April 2022 lalu.
Berdasarkan informasi yang beredar korban diketahui bernama CS (18) warga Kelurahan Procot, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal. Korban diketahui merupakan seorang pelajar salah satu SMK di Slawi.
Akibat kejadian tersebut, polisi kini telah mengamankan 10 orang dari 2 kelompok remaja yang diduga terlibat dalam tawuran tersebut untuk dimintai keterangan.
Kejadian tersebut hanyalah sedikit potret dari banyaknya kasus-kasus serupa di negeri ini. Generasi muda Islam saat ini mengalami Herolessnes yaitu suatu kondisi dimana mereka merasa tidak memiliki pahlawannya.
Akibatnya, generasi muda saat ini mengambil contoh teladan dari figur-figur yang tidak mencerminkan karakter dan kepribadian Islami. Sosok figur yang memberikan teladan yang jauh dari akhlakul karimah seorang muslim.
Fenomena crazzy rich, tik tok, hingga tawuran geng motor dan sebagainya merupakan contoh nyata akan adanya herolessnes tersebut.
Penyebabnya, menurut Ahmad Mansur Suryanegara adalah salah satunya disumbang oleh pendidikan kita dimasa lalu, beberapa dekade kebelakang.
Sejarah yang ditulis disebut dilakukan secara de'Islamisasi. Yakni penulisan dengan meminggirkan peran dan heroisme Islam, dampaknya kisah-kisah tentang kepahlawanan tokoh-tokoh Islam terpinggirkan.
Generasi muda saat ini lebih bangga ketika mencontoh artis idolanya, yang dalam pandangan mereka memukau dan keren, padahal artis tersebut tidak mencerminkan akhlakul karimah. Yang lebih miris lagi ketika yang dicontoh adalah para konten kreator yang membuat konten-konten yang tidak mencerdaskan seperti konten prank dan ajang pamer-pamer serta gaya hidup hedonisme.
Untuk mengatasi herolessnes ini tentu membutuhkan perhatian dan dukungan semua pihak, terutama peran serta orangtua. Orangtua harus berperan lebih aktif dalam mengawal anak-anaknya dalam bergaul dan berinteraksi.
Sebab usia remaja adalah usia pencarian jatidiri, mereka (para remaja) akan mencari 'prototipe' yang dianggap "keren" untuk dicontoh dan ditiru. Ketika mereka lebih banyak berinteraksi dan melihat serta mengamati artis-artis idolanya, maka merekapun akan menirunya. Tetapi jika mereka lebih banyak melihat dan mengamati sosok ulama dan tokoh Islam, maka merekapun akan menirunya sebagai 'prototipenya'.
Remaja, mereka cenderung mencari eksistensi dan aktualisasi diri. Bergabung dengan geng motor misalnya, dianggapnya adalah bentuk eksistensi dan aktualisasi diri yang dalam pandangan mereka akan memberikan kesan 'keren', sehingga merekapun mencari aktualisasi diri di tempat tersebut.
Berkembangnya dunia sosial media saat ini tidak dipungkiri memberikan dampak positif, tetapi jangan lupa bahwa disamping itu juga jika tidak hati-hati banyak menimbulkan ekses yang malah negatif.
Salah satunya adalah berkembangnya konten-konten yang mempertontonkan tanyangan yang kurang mendidik. Banyak juga artis yang membuat konten yang hanya berisi ajang pamer dan adu harta kekayaan, ada juga yang membuat konten yang isinya prank, dsb.
Untuk itulah pentingnya generasi muda saat ini memahami sejarahnya dan memiliki idolanya sendiri. Sebab generasi muda adalah TUNAS BANGSA, ditangan merekalah peradaban Islam akan bangkit untuk memimpin dunia kembali.
Maka dari itu, pentingnya generasi muda belajar sejarah kepahlawanan dan heroisme tokoh tokoh Islam. Mereka harus mengenal bagaimana akhlak para shahabat Nabi Saw, dan generasi shalafusshalih yang begitu luarbiasa. Selain mereka adalah orang yang 'alim, mereka pula dikenal memiliki banyak prestasi yang membanggakan. Itulah hendaknya yang menjadi ukuran "keren" yang sejati.
Sebut saja sosok Ibnu Sina, Imam al Ghazali, Muhammad al Fatih, al Khawarizmi dan masih banyak yang lainnya. Generasi muda hendaknya dikenalkan tentang kecerdasan dan ketawadhuan sosok Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kisah heroisme Khalid bin Walid sang panglima perang Rasulullah Saw, kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang melegenda, atau kisah Kedermawanan Abu Bakar ash Shidiq, dan masih banyak lagi. Sehingga mereka memiliki idola yang benar bukan idola yang menyesatkan bahkan menjerumuskan.
Terkait hal ini, Allah SWT dalam Al-Qur'an telah mengingatkan :
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.." (Q.S. al-Hasyr : 18)
Ayat tersebut menjadi peringatan bagi umat Islam untuk memperhatikan sejarahnya sebagai bekal dimasa depan. Bekal kehidupan di masa depan adalah pengalaman di masalalu.
Semoga semakin banyak yang sadar akan bahanya herolessnes dan bangkit untuk segera membenahi segala yang kurang tepat. Peran serta semua elemen dibutuhkan, terutama peran orangtua sebagai pilar keluarga sebelum masyarakat. Orangtua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anaknya. ***