Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Dokter Sartono: Melawan Corona Dengan Nyawa

Andri Susanto•
Warung Pojok

Oleh: Rizky Fajar Afriyansyah
Sekretaris Forum Masyarakat Madani Peduli Kesehatan Ibu dan Anak Kabupaten Brebes

SuaraPantura.com - Menjadi dokter di kala pandemi bukan pekerjaan mudah. Banyak yang harus dipertaruhkan. Mulai dari waktu bersama dengan keluarga, hingga nyawa sendiri juga harus dikorbankan. Itulah yang dirasakan hampir semua tenaga kesehatan (nakes) di masa virus corona menyerang.

Bagi para nakes, tidak istirahat atau tidur selama dua atau tiga hari sudah jadi makanan sehari-hari. Namun kepedihan dan rasa haru tidak bisa dihindari ketika seorang kolega nakes gugur di medan pertarungan melawan virus corona ini.

Itulah yang dirasakan oleh hampir seluruh nakes di Brebes ketika ditinggal Dokter Sartono, seorang dokter senior sekaligus kepala Dinas Kabupaten Brebes, yang ikhlas dan berani menyelematkan ribuan nyawa korban keganasan virus corona, hingga akhirnya gugur di medan peperangan melawan serbuan virus tersebut.

Pada mulanya adalah pertemuan antara warga negara Jepang dengan orang Indonesia yang bertemu di sebuah klub dansa pada 14 Februari 2020. Tidak taunya, ternyata pertemuan kecil itu menjadi permulaan peristiwa besar yang terjadi di Indonesia, yaitu pandemi virus Corona.

Sejak saat itu, bangsa ini mulai jatuh bangun melawan virus ini. Banyak sekali korbannya. Maklum saja, dua tahun lamanya Virus Corona ini menyerang Tanah Air. Virus ini merebak cepat di seluruh antero negeri, tidak terkecuali Brebes Jawa Tengah. Wilayah dengan penduduk hampir dua juta jiwa di kawasan ter barat Jawa Tengah.

Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi
Baca Juga · Warung Pojok
Dari Rekening Dormant BNI Rp204 Miliar hingga Pembunuhan Kacab BRI, Jejak Sindikat Candy dan Dwi

Bupati Brebes pun menyatakan sebagai zona merah mulai 5 Mei 2020. Kala itu, kasus pertama warganya positif Covid-19 dari klaster alumni peserta tablig akbar Gowa Sulawesi Selatan. Situasi kian horor kala stok Alat Pelindung Diri (APD) tenaga kesehatan yang menangani pasien corona dinyatakan krisis, ditambah pusat keramaian diperketat, makan minum di warung harus take away, kebijakan work from home (WFH) di kantor pemerintahan dan swasta diberlakukan serentak guna meredam penyebaran virus ganas ini.

Namun tentu saja, kebijakan WFH tidak berlaku bagi Dinas Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan di Brebes. Dinas yang menaungi 38 Puskesmas, 14 Rumah sakit dan puluhan klinik terus berjibaku menangani pasien positif corona dan mengedukasi warganya dari penyebaran yang kian masif. Dr. Sartono, sebagai kepala dinas tentu saja memiliki tanggung jawab yang sangat besar yang harus dipikul.

Semasa hidupnya, Dokter Sartono dikenal sebagai orang humble, mudah bergaul, baik dikalangan sejawat maupun secara umum. Awal dilantik sebagai Kadinkes ia lakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan berbagai pihak internal dan eksternal, tak jarang ia memimpin apel pagi dan memberikan semangat kepada jajaran dibawahnya di seluruh 38 puskesmas.

Meski ditengah usia yang tidak muda, beliau melihat peluang bonus demografi dan perkembangan teknologi 4.0 sebagai transimisi komunikasi dengan masyarakat luas. Maka, tidak heran jika ia banyak memanfaatkan medium musik dan media sosial guna promosikan pesan-pesan Kesehatan. Strategi ini juga dijalankan oleh beliau untuk mencegat wabah Corona menyebar lebih jauh di area Brebes. Dengan musik dan media sosial beliau tidak pernah lelah mengedukasi warga brebes tentang informasi mengenai protokol kesehatan di masa pandemi virus Corona.

Sebagai orang nomor satu di dunia Kesehatan Brebes, Dokter Sartono dikenal sosok yang berintegritas tinggi. Selama wabah corona, Ia tidak tinggal diam merancang strategi menangani pandemi di Brebes. Hampir semua masalah mulai dari hulu, yaitu kebijakan publik menangani pandemi, hingga hal-hal di hilir seperti ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para nakes tidak luput dari perhatiannya.

Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya
Baca Juga · Warung Pojok
Corporate Secretary BNI, Kekayaan Okki Rushartomo Melonjak, Ini Rinciannya

Sejak Brebes dimasukkan dalam kategori zona merah, Dokter Sartono tidak pernah sedikitpun lelah atau bosan menghimbau jajarannya untuk melakukan Testing, Tracing dan Treatment. Tidak hanya itu, ia turun langsung memastikan implementasi jogo tonggo di desa-desa. Bahkan untuk menuntaskan persoalan kekurangan APD tenaga kesehatan, ia mengupayakan melalui koordinasi dengan berbagai pihak baik di pemerintah pusat, provinsi maupun swasta.

Hingga pada suatu waktu vaksin corona telah ditemukan, beliau memberikan prioritas bagi tenaga kesehatan sebagai garda depan penanganan di level pelayanan untuk mendapatkan distribusi pertama vaksin tersebut.

Satu hal yang dikenal dari Dokter Sartono, meski raut muka nampak lelah, dan beban berat yang sedang dipikirkan soal wabah ini, beliau “tidak pernah mengeluh”. Dr. Sartono tetap memberikan pesan optimistis“ tetap berikhitar sekecil apapun dan tidak boleh sombong di hadapan Allah”. Sesekali ia menyadur ucapan Ibnu Sina “kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan”.

Selama bulan Juli 2021, lonjakan kasus meninggal dunia karena corona makin masif, tidak sedikit di antara tenaga kesehatan gugur karenanya. Brebes berada di suasana genting, bercampur haru. Berita lelayu berdatangan dari berbagai penjuru.

Dalam situasi serba darurat dan gawat ini, kabar duka tiba-tiba datang. Dokter Sartono, sosok yang dikenal gigih memerangi wabah, harus gugur dengan kondisi fisiknya yang tidak mampu menahan sakit lantaran ikut terpapar virus Corona. Sang dokter pemberani itu harus mengalah pada takdir. Ia dinyatakan meninggal dunia saat mendapat perawatan di ruang ICU RSUD Brebes.

MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026
Baca Juga · Warung Pojok
MAXstream Dikeluhkan Pengguna, Folaplay dan TVRI Jadi Solusi Nonton Piala Dunia 2026

Seluruh Indonesia kehilangan. Semua media nasional kompak memberitakan wafatnya beliau. Bahkan Sebelum tutup usia, ia masih sempatkan pesan penting melalui salah satu stafnya. “tolong jaga kesehatan masyarakat Brebes. Syukur-syukur bisa lebih bagus, sehingga pandemi ini cepat selesai dan tolong jaga kekompakan Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes”, kata seorang staf mengutip perkataan dr. Sartono di akhir masa hidupnya.

Kini kondisi sudah mulai berangsur pulih, kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan serta capaian vaksinasi corona warga Brebes sudah tinggi. Agenda pemulihan ekonomi digenjot oleh Pemerintah melalui berbagai program. Sosok Dokter Sartono boleh saja pergi secara fisiknya, namun tidak dengan kiprahnya yang penuh inspiratif.

Beliau adalah seorang pahlawan di tengah pandemi. Pemerintah Daerah perlu memberikan penghormatan khusus atas perjuangan keras Dokter Sartono selama wabah terjadi. Penghormatan bisa dilakukan dengan cara penyematan nama gedung atau instansi layanan Kesehatan yang ada di Brebes.

Dari Dokter Sartono kita belajar tentang komitmen kemanusiaan. Sebab, kalau bukan karena ia seseorang yang ikhlas dan tulus melayani masyarakat, tidak mungkin seseorang masih bisa mempedulikan nasib masyarakat sampai di hembusan nafas terakhir kehidupannya. Mungkin dr. Sartono sudah tidak ada lagi. Tapi kita tidak mungkin melupakan karya besarnya: jiwa-jiwa yang ditolong.***

Tags:
#covid 19#corona#dinas kesehatan#bupati brebes#kabupaten brebes#dokter sartono
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…