SuaraPantura.com - Cerpen robohnya surau kami mengingatkan bacaan kita Gen Millenials semasa SMP dulu.
Cerpen ini berkisah tentang bunuh dirinya penjaga surau yang rajin berdoa namun enggan bekerja.
Ini sekaligus menjadi tamparan orang-orang yang hanya mengandalkan doa namun malah berikhtiar.
Karena sesungguhnya manusia juga harus menjaga keseimbangan hati untuk berdoa, raga untuk bekerja dan pikiran untuk mrnuangkan gagasan. Jika ketiganya tidak berjalan beriringan maka akan menjadi manusia yang timpang.
Baik langsung saja berikut sinopsis cerpen robohnya surau kami yang diambil dari kumpulan cerpen AA Nafis.
Novel ini menceritakan kehidupan seorang kakek yang selama hidupnya dia menghabiskan waktu sebagai seorang penjaga surau.
Suatu peristiwa mengenaskan kemudian menimpanya dimana kakek penjaga surau ini ditemukan tewas karena bunuh diri.
Alkisah, suatu hari seorang kakek mendatangi sebuah perkampungan dan meminta izin dari orang-orang kampung untuk menjadi Garin atau penjaga sebuah surau tua yang terbengkalai.
Untuk menghidupi dirinya, sang kakek membuka usaha sebagai pengasah pisau, selain itu juga dia mendapatkan sedekah dari orang-orang kampung.
Berkat usaha sebagai pengasah pisau, sang kakek bisa bertahan hidup dan hasilnya cukup untuk kebutuhannya.
Rutinitas yang dilakukan kakek ini di setiap harinya selalu saja sama, mulai dari mengasah pisau, menjaga dan merawat serta membersihkan surau dan tentu saja beribadah.
Suatu hari, seorang pemuda mendatanginya dan mengajak ngobrol. Pemuda yang bernama Ajo Sidi ini menceritakan sesuatu yang begitu menyentuh hati sang kakek.
Ajo Sidi mengisahkan sebuah obrolan yang terjadi antara Haji Saleh dengan Tuhan setelah meninggal dunia.
Haji Saleh sendiri dikenal sebagai seorang yang semasa hidupnya hanya berdoa dan berdoa. Sayangnya, setelah meninggal dunia Haji Saleh justru masuk neraka.
Karena tidak terima, Haji Saleh lalu memprotes keputusan Tuhan ini. Dia merasa sudah melakukan yang terbaik selama hidupnya.
Apalagi hampir seluruh hidupnya dihabiskan hanya dengan berdoa dan memuji-muji nama Tuhan. Sanak familinya juga dilupakan hanya karena fokus pada beribadat dan memuji Tuhan.
Karena didatangi Haji Saleh, Tuhan akhirnya memberikan waktu dan terjadilah perbincangan antara Tuhan dengan Haji Saleh yang sarat makna.
Nah, obrolan-obrolan antara Tuhan dengan Haji Saleh yang diceritakan oleh Ajo Sidi ini begitu menyentuh hati kakek penjaga surau.
Bahkan di dalam hatinya kakek ini menganggap cerita Ajo Sidi adalah sebuah sindiran terhadap dirinya, jika dikaitkan dengan inti dari obrolan Haji Saleh dan Tuhan.
"Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat," begitu sedikit penggalan obrolan Haji Saleh dengan Tuhan, dikutip dari inlis.kemenpppa.go.id.
"Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak!" Kata Tuhan.
Mendengar cerita yang kemungkinan dikarang saja oleh Ajo Sidi ini, si kakek penjaga surau ini merasa tersindir, murung dan juga kesal.
Memang dirinya selama ini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berdoa, menjaga surau dan mengasah pisau. Tidak sekalipun dia memikirkan orang lain selain tugas utamanya di atas.
Karena merasa terpukul dengan kisah Ajo Sidi, si kakek penjaga Surau ini begitu menyesal jika selama hidupnya tidak pernah memikirkan orang lain.
Meski dia sadar selama ini selalu rajin beribadah, namun kenyataannya Haji Saleh yang rajin ibadah saja justru masuk neraka, kakek ini lantas putus asa.
Kakek ini merasa tidak ada gunanya melanjutkan sisa hidupnya, dan karena itu dia lantas mengambil jalan pintas menjemput kematiannya dengan bunuh diri.
Kematiannya tentu mengagetkan semua orang di perkampungan itu. Mereka lalu berbondong-bondong mengurus jenazah kakek ini dan menguburkannya.
Seluruh isi kampung berduka dan turut serta dalam upacara pemakaman sang kakek kecuali satu orang. Dialah Ajo Sidi yang ketika semua orang melayat ke surau, dia malah memilih untuk pergi bekerja seperti biasa.
Nah, barangkali hanya sekian ulasan seputar sinopsis Robohnya Surau Kami. Semoga teman-teman yang penasaran bisa tercerahkan dan mengambil inti dari kisah ini.***