SuaraPantura.com - Masih hangat dalam ingatan, Rara pawang hujan yang viral di Sirkuit Mandalika.
Kali ini pawang hujan yang bernama lengkap Rara Isti Wulandari kembali ramai diperbincangkan usai ikut meramal nasib anak Ridwan Kamil, Eril atau Emmeril Kahn Mumtadz yang hilang di sungai Aare, Bern Swiss.
Rara meramal bahwa Eril akan ditemukan dalam kondisi meninggal, paka pukul 08.00 waktu setempat.
Sontak ramalan ini memantik kecaman dari nitizen.
Rara dianggap tak berpati terhadap musibah yang sedang dialami seseorang.
Benar saja, bayangkan seorang ibu atau seorang ayah yang sedang dirudung sedih kehilangan anaknya kemudian diramal bahwa anaknya meninggal.
Bagaimana perasaan mereka?
Mungkin hari ini baik Ridwan Kamil maupun sang istri untuk makan saja pasti tak enak, doa sedang dipanjatkan sebanyak-banyaknya.
Namun di luaran sana si peramal malah meramalkan kematian sang putra.
Nah disini mustinya etika dikedepankan. Meskipun mungkin si Rara punya kelebihan untuk suatu hal tertentu, jika sekiranya apa yang dibicarakan menyakiti orang mustinya tak usah disampaikan.
Keilmuannya harus dibatasi etika.
Belajarkan untuk berempati terhadap keadaan dan bijaksana dalam mengaplikasikan keilmuan yang Ia miliki.
Jangan sampai kelebihan itu dijadikan ketelanjangan tanpa filter sehingga menyakiti perasaan orang.
Untuk persoalan Ramalan tentang Eril,
Ingat ada perasaan seorang ibu yang menanti, berdoa dan mengharapkan keselamatan sang anak.
Ada seorang ayah yang terus berupaya tegar dan terus melantunkan doa-doa.
Mbak Rara, Kelebihanmu jangan sampai menyakiti orang.
Apalagi kini dianggap gaduh. Bahkan MUI turut bersikap.
"Agama Islam melarang umatnya berhubungan dengan dukun. Oleh karena itu, MUI mengimbau umat Islam menjauhi praktik perdukunan," kata Waketum MUI Anwar Abbas melalui salah satu media saat dimintai tanggapan seputar ramalan.
Yuks Mbak Rara, hapus semua postinganmu terkait Ramalan nyawa seseorang ini.
***