Oleh: Lazarus Sandya Wella Pemimpin Redaksi Kabar Tegal
SuaraPantura.com - Hari ini saya diwawancarai oleh keponakan dari salah seorang sahabat. Yang biasanya mewawancarai, kali ini diwawancarai…. terasa aneh.
Setelah selesai liputan pada pagi harinya, kita janjian bertemu di Co-Working Space Trasa, Slawi. Sekira jam 11.30 siang. Cari tempat yang starategis sekaligus menikmati fasilitas Pemkab yang gratis…, heeee
Ponakan sahabat saya itu untuk kepentingan skripsi, katanya…. Malam hari sebelum ketemu, saya sudah diberikan clue pertanyaannya. Sengaja saya minta bocoran agar tak kelihatan bodoh pas diwawancara, kan wartawan… heeee lagi.
Tema yang akan ditanya, soal city branding Kabupaten Tegal. Agak kaget pas diberikan clue-nya. Kirain soal-soal jurnalistik atau berita. Tapi mungkin ini bentuk apresiasi sahabat saya kepada saya, dijadikan narasumber. Jadi saya coba mengulik tema city branding Kabupaten Tegal lewat jejak digital.
Ketemu, hanya 2 artikel, dan cukup lawas… Tapi cukup bisa dipahami dengan cepat. Intinya adalah, “Memberi merk” suatu wilayah, “Mebranding” sebuah kota/kabupaten/propinsi. Istilah saya: “Memberi tagline”.
Kalau Yogya “Never Ending Asia”, DKI Jakarta “Enjoy Jakarta”, pertanyaan yang muncul di list wawancara: Kabupaten Tegal apa ? …. saya sebagai pewarta pun bingung menjawab. Bukan karena saya baru 2 tahun di Slawi, tapi memang tak pernah terdengar atau terpampang, Slawi sih apa?
Katanya “Slawi Ayu”, pernah saya dengar. Tapi penjabaran “Ayu” menurut beberapa pihak, susah sekali didefinisikan artinya. Tugu Poci yang banyak dijumpai pun, tak terdengar “Negeri Poci” jadi tagline atau branding resmi Pemkab Tegal. Begitu juga “Negeri 1000 Wayang” atau lainnya.
Ternyata, ponakan temen saya itu menjawab bahwa Pemkab sudah menetapkan city branding Kabupaten Tegal, yakni “Slawi Indah”, kalau saya tak salah dengar tadi. Lupa-lupa ingat, karena tak begitu “membekas” di hati dan telinga. Datar saja.
Sudah ditetapkan sejak 2020. Tapi karena alasan Covid-19, tim kajian belum maksimal menggodok dan mengajukan ke Bupati, kalau tak salah dengar.
Padahal, city branding, menurut saya akan membawa rasa jadi penasaran, berimajinasi, dan akhirnya tertarik untuk datang; “Sparkling Surabaya”, yang ada di benak saya, berkilau gemerlapan… pastinya indah.
“Kulonprogo The Jewel of Java” lagi-lagi yang saya bayangkan keindahan Kulonprogo. Dan memang benar, dua kali kesana, pantai dan gunungnya sangat memanjakan mata.
“Slawi Indah” jika memang benar di approved Bupati, pertanyaan saya: menggambarkan fakta, atau sebuah komitmen jangka panjang? Bicara fakta, memang ada sebagian potensi organik yang bagus. Guci salah satunya. Bumijawa juga indah. Pantai? indah jika dirawat dan dijaga. Tata Kota? entahlah…
Kembali ke wawancara dengan ponakan sahabat saya, pertanyaan pamungkas: menurut saya apa yang cocok jadi city branding di Kabupaten Tegal (Slawi). Sempat bingung… bahkan sangat bingung.
"Negeri Poci", sebagai wadah teh, tak begitu banyak pengrajin gerabah jenis tersebut. Misal: "Kota Teh",, kabarnya di Slawi hanya ada beberapa pabrik besar, tak terdapat kebun teh. Misal lagi: "Negeri 1000 Wayang", apakah seni pewayangan massif digeluti dan dipertunjukkan?
Wisata Guci dengan air hangat alami pegunungan? bisa juga, tapi apa namanya jadi “Slawi Penuh Kehangatan”? lebay banget menurut saya.
Yang paling ril, saya utarakan ke ponakan sahabat saya: “Slawi Surganya Sate”. Dua daya Tarik orang datang ke Slawi, berdasarkan komentar temen-temen saya yang mampir: pengen ke Guci, pengen nyate.
Kuliner satu ini memang tengah digandrungi. Bahkan CEO tempat saya bekerja pun, jika pulang kampung ke Banyuwangi via tol Trans Jawa, katanya selalu keluar tol Slawi, makan sate, masuk tol lagi.
Demikian juga Guci, pada saat weekend: padat, macet, hotel full booked. Keindahan alam dan air hangat alaminya, buat jutaan insan penasaran ingin datang.