Kejaian aneh mulai terjadi saat seorang tamu tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk mantap mantap dengan Mawar. Sesaat setelah memasuki kamar, tiba-tiba tamu tersebut keluar dengan raut muka ketakutan.
Kejadian tersebut berulang kali terjadi, sampai Mawar diomelin Mamih Rambo karena tamu-tamunya jadi banyak yang kabur.
Tak berhenti sampai disitu, satu hari Mawar menemukan keanehan pada tubuhnya. Ia melihat ada benjolan kecil di sekitar kemaluannya. Lambat laun benjolan itu makin banyak dan nampak seperti bisul-bisul kecil.
Dengan kondisi seperti itu tentu saja Mawar tidak bisa melayai tamu-tamunya, ia mengajukan izin ke Mamih Rambo untuk tidak bekerja sementara waktu sampai ia sembuh.
Satu pagi dia kaget setengah mati saat bangun tidur mendapati celana dalamnya sedikit basah. Ternyata kemaluannya mengeluarkan cairan,tapi bukan keputihan. Cairan itu seperti nanah dan baunya sangat busuk.
Genap seminggu Mawar merasakan gatal-gatal di sekitar kemaluannya dan membersihkan kemaluannya dari cairan yang makin hari makin sering keluarnya.
Pengobatan Melati, teman sekamar Mawar yang merasa kasihan mengajak Mawar untuk berobat ke orang pintar.
"Kita coba aja, kan kamu udah berobat ke dokter masih saja begitu. Kayaknya itu bukan medis," ajak Melati.
Sedikit kaget, namun Mawar akhirnya menerima usulan Melati. Esoknya mereka pergi ke salah satu orang pintar yang rumahnya tak begitu jauh dari lokalisasi tempat mereka bekerja.
Singkatya ketemulah Mawar dengan Mak Icih, orang pintar yang dikenalkan Melati.
"Saya sudah tahu tujuanmu datang ke sini," ucap Mak Icih sebelum Mawar menceritakan maksud kedatangannya.
Ternyata sejak Mawar datang, Mak Icih sudah melihat banyak sosok yang mengikuti Mawar.
"Kamu disantet nak, dukun santetnya ada tiga. Semoga saya bisa membuang santet ini," jelas Mak Icih tanpa berbasa basi.
Mak Icih kemudian mengajak Mawar ke belakang rumahnya. Ternyata di belakang rumah Mak Icih ada semacam sendang kecil. Di pinggir sendang tersebut ada pohon beringin besar yang membuat sendang itu nampak sedikit angker meskipun waktu masih menunjukan sore hari.
Mak Icih menyuruh Mawar menanggalkan semua pakaiannya dan berendam ke dalam sendang hingga batas leher.
Dengan sedikit malu, Mawar pun menanggalkan pakaiannya dan perlahan berjalan memasuki sendang.
"Apapun yang terjadi, jangan keluar dari sendang sampai aku yang menyuruhmu," ucap Mak Icih sambil melemparkan beberapa bunga Kantil di sekitar Mawar berendam.
Mak Icih dan Melati kemudian pergi meninggalkan Mawar. Ditinggal sendirian, Mawar ciut juga nyalinya. Tapi demi kesembuhannya, ia pun meneguhkan niat untuk tetap berendam apapun yang terjadi.
Tiba-tiba Mawar merasakan seperti ada sesuatu yang bergerak bersliweran di antara kakinya.
"Ular...," gumam Mawar dalam hati menebak makhluk yang bersliweran di antara kakinya.
Mawar bisa merasakan saat makhluk itu bersentuhan dengan kulit kakinya rasanya seperti makhluk bersisik. Makhluk ini terus bersliweran hingga selesai adzan Maghrib.
Tak lama kemudian Mawar merasakan seperti banyak semut yang berjalan di kakinya dan terus merambat ke atas. Rasa takut sempat mengganggunya, namun ia ingat pesan Mak Icih untuk tidak meningalkan sendang.
Makin lama makhluk seperti semut itu Mawar rasakan semakin banyak. Anehnya makhluk-makhluk itu hanya merambat sampai batas pusarnya. Beberapa ia rasakan masuk ke dalam kemaluannya, semakin lama semakin banyak.
Saat itulah Mawar mulai merasakan sakit yang luar biasa dengan makin banyaknya makhluk seperti semut yang memasuki kemaluannya.
Di saat yang bersamaan, di tepi sendang Mawar melihat sosok nenek yang sebelumnya sering ia lihat di kamar. Nenek itu memandang Mawar dengan mata melotot seperti marah.
Tak hanya itu, Mawar juga melihat sosok makhluk tinggi besar dengan tubuh penuh bulu, sosok pocong, kuntilanak, dan banyak sosok mengerikan yang belum pernah Mawar lihat sebelumnya.
Saat ketakutannya semakin memuncak dan hampir saja Mawar lari dari sendang, tiba-tiba muncul Mak Icih dan Melati.
"Sudah nak, sini naik," kata Mak Icih dari tepi sendang.
Singkatnya selesailah pengobatan Mawar. Dari keterangan Mak Icih, Mawar ternyata disantet oleh tiga temannya sendiri di tiga dukun yang berbeda.
Hal itu dilakukan oleh rekan seprofesi Mawar karena tidak senang pelanggan mereka beralih ke Mawar.***