Cerita Horor Sopir Truk Pantura: Nyaris Jadi Tumbal Pesugihan Monyet, Jangan Baca Sendirian
Andri Susanto•
Warung Pojok
SuaraPantura.com - Kisah dan cerita horor sopir truk Pantura selalu asik untuk dikulik, apalgi bila berkaitan dengan tumba pesugihan.
Kisah dan cerita horor sopir truk Pantura ini memang bermacam-macam, dari kejadian di jalan hingga di tempat kerja, bahkan hingga jadi tumbal pesugihan.
Salah satu cerita horor sopir truk Pantura kali ini adalah kisah Baran yang pernah nyaris menjadi tumbal pesugihan.
Beberapa tahun silam Baran bekerja di sebuah perusahaan distribusi multi produk.
Sebulan bekerja, Baran baru bertemu dengan pemilik perusahaan. Karyawan tempat Baran bekerja biasa memanggil pemilik perusahaan itu dengan nama pak Seno.
Pak Seno terkenal sebagai bos yang baik hati dan perhatian dengan karyawannya. Namun pak Seno memang jarang terlihat di kantor, ia lebih banyak mengurus bisnis lain di luar kota.
"Berarti kamu cukup akrab sama jalur Pantura ya," tanya pak Seno di slea-sela obrolannya dengan Baran di ruang kerjanya.
"Insha Allah jalan berlubang sama lubang berjalan sepanjang jalur Pantura Jakarta ke Surabaya saya hafal Pak Seno," jawab Baran sambil bekelakar.
"Oke deh kalau begitu, selamat bergabung dan betah-betah kerja di sini ya. Oh iya ini tolong kamu suruh OB beli rokok sekalian rokok kamu ya," ucap pak Seno sambil mengulurkan selembar uang seratus ribu.
"Siap Pak," jawab Baran seraya mengulurkan tangan berjabat tangan ke pak Seno.
Semenjak pertemuan Baran dengan pak Seno, pak Seno tak pernah lagi terlihat datang ke kantor padahal sudah dua bulan Baran bekerja.
"Pak Seno kok ga pernah ke sini lagi ya Wel, padahal lumayan kalau ada pak Seno, bisa udud gratis," kata Baran ke kernetnya yang bernama Kawel saat ngobrol di garasi kantor.
"Memang kan pak Seno jarang ke sini. Tapi jangan sering-sering menerima pemberian pak Seno Om," jawab Kawel.
"Memangnya kenapa Wel?," tanya Baran penasaran sambil bergeser duduknya lebih dekat ke Kawel.
"Oh ya kamu baru di sini ya jadi belum tahu ceritanya. Tapi jangan cerita ke siapa-siapa ya, soalnya ini memang tidak bisa dibuktikan. Rumornya pak Seno itu pesugihan monyet, ngipri monyet. Setahun sekali pasti ada yang meninggal karyawan di perusahaan ini, entah di kantor sini atau di cabang yang lain," ungkap Kawel.
"Dan biasanya yang jadi tumbal itu pernah dikasih apa gitu sama pak Seno, makanan, rokok, baju, apa saja. Menurut cerita juga yang mati itu ngimpi didatangi pak Seno sama sepasukan monyet," tambah Kawel setengah berbisik.
"Ah aku sih nggak percaya wong pak Seno baik begitu kok. Kan aku udah ngobrol sama pak Seno waktu baru masuk kerja di sini," sanggah Baran.
"Aku juga nggak 100 persen percaya, cuma cerita yang beredar begitu. Dan katanya permintaan tumbal ini sudah ada sejak zaman almarhum bapaknya pak Seno yang pegang perusahaan ini. Udah ah jangan bahas pak Seno malah jadi takut," pinta Kawel.
Sore hari saat pulang kerja, Baran mampir mengisi bensin di SPBU dan secara tidak sengaja bertemu dengan pak Seno.
"Eh pak Seno, dari mana mau kemana Pak?," sapa Baran ramah.
"Eh kamu Ran, saya baru pulang ini dari Jakarta sekalian isi bensin. Kamu buru-buru nggak? temani makan dulu yok, itu di warung yang deket jembatan," ajak pak Seno.
"Wah boleh tuh Pak, kebetulan lagi lapar juga. Bapak jalan duluan, saya isi bensin dulu nanti saya menyusul," ucap Baran.
Sore itu Baran senang bukan kepalang, sudah diajak makan, dibelikan rokok, pulangnya masih dikasih uang 50 ribu sama pak Seno.
Saat Baran mengantar pak Seno keluar parkiran sampai mobil Pajero Sport pak Seno naik jalan Pantura, Baran melihat keanehan. Entah karena waktu yang sudah surup karena sebentar lagi maghrib atau karena matanya yang kurang awas, di kursi belakang mobil pak Seno ia melihat seperti ada seekor monyet yang duduk dan melihat ke arahnya.
Sampai di rumah Baran masih memikirkan kejadian aneh sore tadi. Hingga malamnya ia bermimpi melihat Kawel di garasi kantor. Dalam mimpinya ia melihat Kawel sedang tergeletak dan di atas tubuhnya ada monyet dengan ukuran yang tidak wajar sedang berdiri. Tidak wajar karena monyet itu besarnya seperti orang dewasa.
Baran yang hendak menolong Kawel tiba-tiba terpental saat bermaksud mendorong monyet itu agar tidak menginjak Kawel yang seperti kesulitan bernafas. Saat terpental itulah dia terbangun.
"Mimpi kok aneh begitu ya. Kalo bener kata Kawel pak Seno pakai peugihan monyet, kenapa yang jadi tumbal Kawel, bukan aku yang barusan ditraktir pak Seno," pikir Baran.
Esoknya Kawel tidak masuk kerja. Dari bagian personalia ia mendapat informasi kalau Kawel sakit, sejak semalam nafasnya sesak.
Sorenya setelah mengantar barang, Baran bergegas menuju rumah Kawel. Benar saja ia melihat Kawel terbaring di tempat tidur dengan nafas yang tidak beraturan, seperti kesulitan bernafas.
"Gimana Wel," tanya baran singkat.
"Ya begini, ga tau kenapa dada sesak, sulit nafas. Sudah periksa ke dokter, dikasih obat banyak tuh," jawab Kawel sambil menunjuk seplastik obat di atas meja.
Dengan sedikit berbisik, Baran menceritakan mimpinya tadi malam dan kejadian aneh sore hari setelah ia makan bareng pak Seno.
"Nanti malam kita ke rumah ustad Eko ya, habis isya aku jemput. Aku juga penasaran ini," ajak Baran.
Lepas isya Baran dan Kawel pergi ke rumah ustadz Eko. Baran menceritakan kejadian aneh dan mimpi seramnya. Sedangkan Kawel menceritakan penyakitnya yang tiba-tiba muncul padahal selama ini dia tidak memiliki riwayat penyakit asma atau sejenisnya.
Ustadz Eko diam sejenak menundukan kepala sambil tangannya menggerakkan tasbih yang dar tadi ia pegang.
"Sebenarnya bukan Kawel yang jadi sasaran, tapi kamu Baran," ujar ustad Eko.
Sontak Baran kaget, karena dia tidak mengalami apa-apa, justru Kawel yang sudah mulai terlihat gejalanya.
"Monyet itu tidak suka karena Kawel menceritakan perihal pesugihan monyet pak Seno, makanya Kawel diancam," jelas ustadz Eko.
"Terus gimana ini baiknya Tadz," tanya Kawel.
"Besok kamu taburkan garam ini di empat pojokan pager kantor ya. Terus seama tiga hari ini kalian jangan pernah putus wudhu dan banyak berdoa," kata ustadz Eko sambil menyerahkan kantong plastik kecil berisi garam.
Pagi itu Baran dan Kawel sengaja datang lebih awal ke kantor supaya tidak ada yang melihat mereka menaburkan garam. Selesai menaburkan garam mereka kembali ke garasi dan membuat kopi.
"Aku kok jadi takut gini ya, bulan depan aku keluar aja deh Wel, ngeri," kata Baran lirih.
"Iya aku juga, kita resign bareng deh," sahut Kawel.
Jelang akhir bulan, Baran dan Kawel meluruskan niat untuk keluar dari tempat kerjanya. Tanpa menunggu persetujuan dari pak Seno sebagai pimpinan, mereka tetap keluar setelah proses serah terima dengan bagian personalia.
Itulah cerita horor sopir truk Pantura yang nyaris menjadi tumbal pesugihan monyet oleh bosnya sendiri yang bernama pak Seno.
Nama, tempat dan cerita ini sudah dikonsep sedemikian rupa agar menjadi sebuah cerita horor fiktif.
Kejadian dan cerita horor bukan untuk menakut-nakuti, tetapi hendaknya menjadikan kita lebih siap dan waspada terhadap mereka. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, mereka ada di sekitar kita.***