Cerita PSK Pantura: Dijanjikan Jadi Penjaga Warung, Ternyata ini Kerjanya
Andri Susanto•
Warung Pojok
SuaraPantura.com - Kisah dan cerita PSK Pantura memang tak ada habisnya untuk diceritakan.
Bukan hanya karena cerita PSK Pantura melibatkan banyak wanita, perbedaan latar belakang dan motif mereka terjun menjadi 'kupu-kupu malam' ini memang cukup banyak kisahnya.
Salah satu cerita PSK Pantura adalah beberapa di antara mereka yang awalnya tidak berniat menjadi PSK namun akhirnya terjun ke bisnis lendir yang tak ada matinya.
Kisah ini dialami oleh wanita sebut saja namanya Tini. Tini adalah remaja berusia 20 tahun. Perawakan Tini yang aduhai didukung kulit putih dan wajahnya yang manis memang menarik banyak pria.
Sayang, pendidikan Tini yang hanya sampai sekolah menengah dan kondisi perekonomian keluarganya yang tidak begitu bagus membuat Tini kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Selama ini Tini hanya bekerja sebagai penjaga warung dan sudah beberapa kali pindah karena ingin mendapatkan penghasilan yang layak.
Satu hari Tini mendapat tawaran menjaga sebuah warung kopi di jalur Pantura. Karena bayaran yang lumayan, Tini pun mengambil tawaran tersebut.
Saat Tini mendatangi lokasi bersama teman yang mengajakanya, ia sedikit kaget karena warungnya hanya menyediakan kopi dan mi instan dan tempatnya sangat sepi.
"Kenapa, kaget ya tempatnya sepi? Memang kalau siang sepi tapi kalau malam ramai," ujar temannya menjelaskan.
Tini kemudian diajak ke belakang warung. Ia heran karena di belakang warung ternyata ada 6 kamar berjejer. Temannya menyuruh Tini meletakkan barang-barangnya di kamar.
"Ini kamarmu, selama di sini kamu tinggal di kamar ini. Makan dan minum tinggal ambil di dapur," jelas temannya.
Tini masuk kamar dan memperhatikan isi kamar yang menurutnya agak unik. Kamar tersebut kecil tapi ada kamar mandi di dalamnya.
Benar saja, saat malam mulai beranjak menggantikan siang. Warung tersebut mulai ramai. Tini tak hanya berdua dengan temannya. Lepas maghrib ada sekitar 5 perempuan lain yang sepertinya datang dari lokasi di sekitar warung.
Agak risih Tini melihat mereka karena pakainnya yang seksi dan cukup terbuka. Ia sendiri tidak banyak bertanya pada temannya apa kerja mereka di warung itu.
Tak seberapa lama datang pria dan memesan kopi. Tini pun bergegas membuatkan kopi. Tak berapa lama satu wanita yang tadi berkumpul di ruang tengah keluar dan menemani si pria menghabiskan kopinya.
15 menit kemudian pria tadi diajaka si wanita ke belakang. Tini sebenarnya penasaran tapi ia urungkan niatnya bertanya pada temannya.
Setengah jam berlalu wanita dan pria tadi kembali ke depan warung. Mereka ngobrol sambil bercanda kecil, setelah itu si pria meninggalkan warung.
Wanita yang menemaninya mendatangi tini dan menyerhkan uang 25 ribu rupiah.
"Catat ya, Wati," ucapnya sambil menyodorkan uang 25 ribu.
Tini agak bingung catat dimana dan untuk apa dicatat, dan uang 25 ribu sebagai uang apa.
"Kok bingung, itu catat di buku yang dipojok," ujar si wanita sambil menunjuk buku besar di pojok meja.
Benar saja, waktu Tini membuka buku itu ternyata isinya catatan nama-nama orang dan setoran uang 25 ribu lengkap dengan tanggal dan jamnya.
Tini bergegas mencatat uang pemberian Wati. Wati pun berlalu meninggalkan Tini.
Tak berapa lapa, Ria teman Tini yang mengajaknya bekerja mendatangi Tini.
"Eh iya aku upa kasih tahu tugasmu yang lain. Kalau ada cewek yang kasih uang 25 ribu kamu catat di buku itu ya," ujar Ria.
"Emang itu uang setoran apa sih Mba?," tanya Tini penasaran.
"Itu uang sewa kamar Tin, kan mereka tadi sewa kamar yang di belakang itu. Nggak perlu dijelaskan kamu mudeng kan mereka itu ngapain di sini," jawab Tini.
Seminggu Tini bekerja, semua berjalan seperti biasa. Tini sudah menguasi pekerjaannya dengan baik.
Satu hari saat warung sedang ramai, tiba-tiba Ria mengajak Tini ke kamarnya.
"Tin, kamu liat cowok yang duduk di pojokan kan? dia mau sama kamu, kamu mau nggak? itu cowok banyak duitnya, kamu minta 500 juga dikasih," bisik Ria.
"Maksudnya mau gimana Mba?," tanya Tini bingung.
"Dia mau ngamar sama kamu, tertarik dia sama kamu. Udah jangan banyak mikir kapan lagi kamu dapet duit banyak. Kamu juga udah nggak perawan kan, terima aja. Pakai kondom kok, aman," rayu Ria.
Tini yang bingung akhirnya berpikir sebentar. Kemudian Tini menerima tawaran Ria.
"Ya udah aku kasih tahu cowoknya, kamu siap-siap aja di sini," kata Ria sambil tersenyum.
Akhirnya malam itu terjadilah peristiwa yang sebenarnya tidak Tini rencanakan. Sejak saat itu Tini pun menjadi bagian dari 'kupu-kupu malam' meskipun ia tetap bertugas menjaga warung dan berjualan kopi.
Itulah kisah cerita PSK Pantura yang awalnya bekerja menjaga warung namun akhirnya jadi ikut dalam bisnis lendir di kawasan Pantura.
Banyak kisah dan cerita lain yang akan diceritakan dari kehidupan PSK Pantura yang lain.
Kadang keterbatasan ekonomi memang menjadi pemicu utama terjebaknya wanita-wanita dalam bisnis haram ini.***