Cerita Horor Pemuda Pantura Pemburu Togel, Nekad Masuk Liang Kubur Sampai Ketemu Desa Ghaib
Andri Susanto•
Warung Pojok
SuaraPantura.com - Kisah dan cerita horor seorang pemuda Pantura yang memburu togel ini terbilang cukup nekat.
Pemuda Pantura ini mengisahkan cerita horor saat memburu nomor togel di sebuah pemakaman.
Awal cerita horor pemuda Pantura ini adalah saat kontrak kerjanya di sebuah perusahaan berkakhir dan tidak diperpanjang.
Pemuda Pantura ini sebut saja namanya Dul. Setelah keluar dari pekerjaannya dan resmi jadi pengangguran, Dul coba cari kerja kesana kemari namun hasilnya nihil.
Satu waktu terbersit di pikiran Dul untuk mencari uang dengan jalan cepat. Setelah di memikirkan beberapa cara akhirnya dia memutuskan mencari uang lewat togel.
Setelah mencari informasi, dia menemukan tempat 'ngglotang' yang menurutnya paling bagus.
Ngglotang adalah istilah yang dipakai oleh pemburu togel untuk mendapatkan angka dari makhluk ghaib.
Tempat ngglotang Dul adalah di daerah yang bernama K. Disinilah dia menemui juru kunci sebuah pemakaman. Setelah mengobrol dengan juru kunci tentang syarat- syarat dan waktunya, Dul kembali ke rumahnya.
Di rumah Dul masih berfikir untuk meneruskan niatnya atau tidak. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan.
Tibalah harinya, sore itu Dul bergegas menuju daerah K dengan membawa semua persyaratannya.
Setelah tiba di rumah juru kuncinya, ia segera mengeluarkan semua persyaratan yang diperlukan dan diserahkan pada juru kunci.
"Ini pasti hasil ya Mbah," tanya Dul singkat.
"Seperti yang saya bilang kemarin, belum tentu berhasil. Tapi kalau dapat angka pasti bakal tembus," jawab juru kunci.
Jam menunjukkan pukul 11:30 saat juru kunci mengajak Dul menuju pemakaman, karena tepat jam 12 tengah malam ini Dul harus memulai ritual.
Dul agak merinding juga saat masuk ke area pemakaman, tempatnya gelap dan banyak pohon-pohon besar. Ia terus mengikuti juru kunci menuju sebuah gubuk kecil yang lokasinya agak jauh di tengah pemakaman.
Sebelum masuk, juru kunci duduk bersila sebentar dan mulutnya komat-kamit entah membaca apa, Dul pun tak paham. Yang ia tahu si juru kunci seperti meminta izin pada sesuatu.
"Ayo masuk," ajak juru kunci membuat Dul kaget dari lamunannya.
Di dalam gubuk, juru kunci memindahkan beberapa lembar papan di lantai gubuk yang masih berupa tanah. Sebuah liang kubur nampak setelah semua papan dipindahkan.
"Sekarang kamu masuk, lalu tiduran disitu. Jangan lupa bakar dupanya setelah kuburan ini saya tutup," ujar juru kunci.
Dul pun segera masuk dan merebahkan diri dalam liang kuburu sedalam hampir 2 meter itu. Setelah ia tiduran, segera ia nyalakan dupa seperti perintah juru kunci.
Juru kunci segera meninggalkan gubuk dan duduk di bawah pohon besar sekitar 100 meter dari lokasi Dul menjalankan ritual. Ia juga menyalakan dupa sebagai tanda, kalau dupanya habis berari dupa punya Dul juga habis.
Dul mulai merasakan ketakutan luar biasa. Tempat yang tadinya biasa aja tiba-tiba suasananya agak lembab. Tanah dalam liang kubur itu juga sedikit basah.
Tiba-tiba Dul merasakan angin yang besar di dalam gubuk. Meski ia tidak merasakan namun bunyi seng yang pakunya lepas itu menandakan ada angin besar yang membuatnya bergerak.
Karena terbiasa dengan suasana gelap liang kubur itu, lama kelamaan ia bisa melihat ke sekililing meskipun samar.
Saat itulah ia melihat sebuah tangan dengan kuku yang panjang keluar dari dinding tanah di sampingnya. Tangan itu mengelus muka Dul hingga ke telapak kakinya. Dul takut, namun ia ingat pesan juru kunci untuk tidak lari apapun yang terjadi.
Setelah tangan itu hilang. Di sampingnya muncul asap yang makin lama makin tebal dan membentuk sesuatu yang ikut rebahan di samping Dul.
Ya benar, itu sosok pocong. Pocong itu mendadak bergerak dan memiringkan badannya sehingga mukanya kini berada nyaris berhadapan dengan Dul.
Tak lama kemudian sosok pocong itu duduk dan memiringkan badannya ke arah Dul. Kini Dul bisa melihat wajah si pocong.
Saat itulah Dul sampai pada puncak ketakutannya. Sekuat tenaga ia bangkit dan mendorong papan penutup liang kubur kemudian melompat keluar.
Keanehan terjadi, saat Dul keluar dari gubuk, ternyata ia tidak berada di pemakaman seperti saat ia masuk bersama juru kunci.
"Dimana ini, kok suasananya beda," batin Dul.
Pemakaman yang tadi ia lihat kini berubah jadi sebuah pemukiman. Pemukiman yang sangat sepi dengan rumah-rumah yang masih terbuat dari anyaman bambu dan atap ilalang.
Dul terus menyusuri pemukiman itu berharap menemukan jalan keluar. Anehnya rumah disana memiliki bentuk yang sama, bahkan pagar bambu dan obor yang ada di tiap rumah juga sama.
Dul tak melihat ada seorang pun di pemukiman itu. Ia terus berjalan sampai menemukan sebuah gerbang seperti batas desa.
Anehnya saat Dul memasuki gerbang desa tersebut dan berjalan agak lama, ia melihat pemukiman dan desa yang sama dengan suasana yang sama seperti desa pertama.
Ia mengulangi kejadian tersebut hingga 5 kali. Lelah berjalan, Dul beristirahat di depan sebuah rumah.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka, ada cahaya seperti dari obor atau lampu minyak dari dalam rumah.