SuaraPantura.com - Sudah hampir dua tahun. Aku Sam (40) sebut saja demikian. Kerja di tempat baru, sebagai manager pemasaran, Usai dapat promosi jabatan, disalah satu perusahaan swasta.
Ditempat baru di daerah yang cukup jauh dari tempat tinggal ku. Aku terpaksa meninggalkan anak-istriku tercinta, ahh rasanya begitu menyiksa. Tapi tak apalah, toh bagian dari tugas dan ikhtiar ku sebagai kepala rumah tangga.
Selama menjadi manager, dan hidup sendiri dirumah dinas perusahaan. Tiap hari, terus terang, aku merasa kesepian. Dan hanya pemilik kedai kopi, yang menjadi tempat ledekanku disaat sepi.
hampir setiap hari selepas kerja, aku mengunjungi kedai kopi tersebut. Untuk sekadar nongkrong dan ngopi. Hal itu, membuat pelanggan dan karyawan serta pemilik kedai kopi sangat mengenalku, bahkan bisa dibilang sangat akrab, baik yang pria mapun wanitanya.
Namun, dalam pikiran nakalku. Sebagai pria normal, yang membutuhkan belaian kasih sayang. Ya, cukup mampu lah, dalam menilai sesorang wanita, karena aku sendiri punya standar tinggi dalam urusan wanita. Hahahaha.. menurutku sih, hanya ada dua orang wanita yang mampu menarik perhatianku dikedai kopi tersebut.
Yang pertama mba Uyun (35) bukan nama sebenarnya. Pokoknya aku manggilnya begitu, dia janda beranak satu, pemilik kedai. Dan bisa dibilang, merupakan perempuan cantik. Sebab, tingginya semampai, proporsional serta berkulit putih, berambut sebahu.
Terus kedua adalah mba Ayu 27 tahun, salah seorang pelayan kedai yang menjadi primadona bapak-bapak pelanggan kopi. Anaknya manis punya lesung pipi dan berdandan khas wanita Indonesia .
Dari kedua wanita tersebut, aku paling akrab dengan mba Uyun, karena sering ngobrol, hingga aku pun tahu seluk beluk kehidupan rumah tangganya. beserta dengan segala masalah yang dihadapinya.
Bu Uyun, potret janda mandiri, single parent sukses. Tak mempan godaan buaya darat. Hebat memang !!, walaupun berdarah-darah dalam merintis usaha warung kopi dan lainya. Tapi dia tetep bertahan ditengah gempuran jaman, hingga bisa mapan.
Sore Bu!, lagi santai nih?” Tanyaku membuka percakapan.
“Eh, bapak !!, iya, tadi habis banyak pelanggan datang kewarung. Mumpung lagi sepi, ya dimanfaatin untuk santai. Eh..bapak..tumben sore dah kesini. Emang pulang cepet yah ?
“ iya Bu, lagi kaga enak badan. Mau cari tukang pijet ”
“O gitu!, Saya aja oh pak. Bisa kok" jawab Bu Uyun penuh semangat.
Waduh engga enak oh Bu, tar dikira modus lagi.
" Ya, tapi emang bener masuk angin Bu, terus ibu emang bisa? Serius mau mijit dan ngerokin saya ? " . Kataku sambil nambahi kalau mau dirumah dinas ku aja Bu.
"' nggih pak, tar tak ngomong anaku sama karyawan ku dulu, biar mereka gantiin ibu di warkop". Ujarnya penuh semangat
Tak berapa lama pun, Bu Uyun datang, dan langsung mijitin terus ngerokin saya. Sambil bercerita, pahit getirnya hidup menjada diperantauan.
Suami Bu Uyun, pergi tak ada kabar. Semenjak anak semata wayangnya masih kecil. Hingga sekarang sudah besar, tapi dirinya tak pernah menikah lagi. Bahkan, kata dirinya, pintu hati dan pikiran sudah tertutup untuk menerima seseorang lelaki. Walaupun banyak pria datang untuk melamar, tapi kekukuhan hatinya tak tergoyahkan.
Suguh hebat sekali. Janda anak satu ini, saya pun dibuat kagum sekali. Ditengah gempuran jaman dan gelamor kehidupan, yang menuntut seorang wanita bergaya. Tak menggoyahkan pikiranya. Ah Bu Uyun..
Bahkan Bu Uyun, selalu siap siaga menjadi kepala rumah tangga, untuk anaknya dan beberapa karyawannya. Dan Pahit manis dalam merintis warung kopi, atau kedai kopinya terbilang menyakitkan. Dikejar-kejar rentenir sampe disita tetangga, karena tak kuat bayar hutang.
" Kejadian itu, membuat ku pindah ke daerah ini mas, dulunya bukan disini. Dan Alhamdulillah bisa berkembang hingga sekarang. Dengan modal menjual semua yang dimilikinya tapi tidak kehormatan saya mas". Cerita Bu Uyun
Ahhh, pemerintah, apa kalian tahu nasib rakyatmu ini, ah lalu kemana program kridit usaha rakyatmu? Gerutuku dalam hati, seraya berucap terima kasih kepada Bu Uyun. Yang rela memijitku.
Ku berikan segepok uang dengan memaksa. Agar Bu Uyun mau menerimanya, untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Semoga ridho Alloh menyertaiku.
***