Oleh : Nur Shidiq, S.Pd.
SuaraPantura.com - Melihat dan mendengar fenomena Citayam Fashion Week. Saya kok melihat bangsa ini sudah sangat berbeda kondisinya dengan jaman dulu. "Bangsa Kagetan".
Mungkin istilah ini akan saya pakai dengan melihat kondisi saat ini. Orang-orang (terutama kaum muda) menjadi kaget dan ingin meniru karena melihat, mendengar atau mengalami sesuatu yang dianggap aneh, di luar kebiasaan, atau tidak lazim.
Fenomena Citayam Fashion Week sudah sangat luar biasa menjadi perbincangan di seluruh Indonesia, dan merambah kaum muda di daerah-daerah untuk menirunya dan sampai gaungnya hingga kota Tegal sendiri.
Saya menyikapi hal tersebut, tentunya dari dua sisi, positif dan negatif. Tapi karena tidak lazimnya penggunaan tempat penyelengaraan kegiatannya, saya menjadi TIDAK SEPAKAT dan (mungkin) menjadi salah satu orang diantara "Bangsa Kagetan" tersebut (hehe).
Sisi positif yg bisa saya ambil, "hanyalah", mereka bisa berkespresi dengan minat-bakatnya. Namun tentu saja sisi negatifnya lebih banyak. Beberapa yg bisa saya sebutkan iakah; mengganggu ketertiban pengguna jalan, mengumbar aurat tidak semestinya, dan terutama yang paling menghawatirkan semakin marak munculnya LGBT di kota Tegal tercinta serta masih banyak hal negatif lainnya.
Media, (terutama Sosial Media) juga turut serta dalam sisi positif dan negatifnya, tentu saja. Sebab media membesar-besarkan perkara ini berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan, bukan?
Di kota Tegal sendiri, dengan adanya ajang tiruan tersebut saya miris melihatnya.
Perbandingan informasi dan penilaian masyarakat. Baru beberapa hari yang lalu saya mendengar informasi, bahwa ada salah satu anak muda asal kota Tegal, tepatnya berasal dari kelurahan Debong. Ia adalah atlet Pencak Silat yang menjadi Juara Dunia di Kejuaraan Pencak Silat Dunia di Malaysia (baca sekali lagi: Juara Dunia!). Seharusnyalah yang seperti ini diviralkan dan harus menjadi atensi semua pihak, dari Pemerintah Daerah (khususnya) hingga sampai masyarakat. Tentu saja karena ia sudah mengangkat derajat dan harum kota Tegal tercinta.
***
Penulis merupakan Budayawan Muda dari Kota Tegal