Oleh : Nur Shidiq, S,Pd.
SuaraPantura.com - Diceritakan dari Ummi Salamah –radhiyallaahu ‘anhaa- beliau berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam didalam rumahku, tiba-tiba masuklah Husain Radhiyallaahu ‘anhu kepada beliau. Maka aku memandang keduanya dari pintu.
Saat itu Husain radhiyallaahu ‘anhu bermain-main diatas dada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, sementara ditangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ada sebongkah tanah, dan air mata beliau mengalir. Dan ketika Husain sudah keluar, maka aku pun masuk kepada beliau, maka aku berkata:
“Dengan bapakku dan ibuku (kalimat penebusan) aku melihat engkau, ditangan engkau ada tanah sambil engkau menangis, maka beliaupun (Nabi SAW) bersabda kepadaku: "Ketika aku bersuka-cita dengannya sementara dia diatas dadaku sambil bermain-main, maka datanglah Jibril ‘Alaihissalaam kepadaku. Dia memberiku tanah yang mana dia akan dibunuh diatasnya, maka karena itulah aku menangis".
Dalam kitab Nuuruzhzhalaam karya Syeikh Nawawi al Bantani halaman 35, jg diceritakan, sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam memberinya (Ummu Salamah) sebuah botol yang didalamnya ada tanah tempat dibunuhnya Husain.
Botol tersebut ditinggalkan (diberikan) disisinya (Ummu Salamah).
Hal itu adalah ketika Jibril mendatangi Nabi dan dia mengabarkan beliau bahwasanya Husain akan dibunuh diatas tanah ini, dan dia (Jibril) memperlihatkan kepada beliau dari tanahnya bumi dimana Husain akan dibunuh diatasnya, dan beliaupun mencium tanah tersebut seraya berkata:
"Celaka Karbala!"
Dan beliau berkata kepada Ummu Salamah:
“Jika tanah ini sudah menjadi darah, maka anakku, Husain dibunuh.”
Bertahun-tahun kemudian, setelah Rosulullah wafat, ketika dilihatnya tanah menjadi darah, maka terperanjatlah Ummu Salamah. Dia berkata kepada pembantu perempuannya:
“Pergilah engkau kepasar. Lihatlah ada berita apa (disana).”
Pembantunyapun pergi kepasar dan pulanglah dia ke Ummu Salamah. Dia berkata: Husain bin Ali radhiyallaahu ‘anhu dibunuh.”
Ya, beberapa puluh tahun kemudian ucapan Nabi SAW menjadi kenyataan. Tepat pada hari Asyura’, Husain bin Ali Radliyallahu Anhu sang cucunda Nabi gugur syahid ditangan orang-orang yang pemerintah (yang zalim?).
Peristiwa memilukan ini terjadi pada hari Jum’at 10 Muharram tahun 61 Hijriyyah.
Kejadian ini sangat memilukan, menyedihkan dan merupakan musibah yang sangat besar bagi kaum muslimin.
Karbala? Asyura? Peristiwa kontroversial dan monumental (lebih tepat'y sejarah kelam) bagi peradaban Islam..
Dimulai dari penolakan baiat al husain (Cucunda Rosulullaah) kepada yazid, keberangkatan menuju makkah lalu ke kufah dan terhenti di karbala.
Pembantaian secara biadab.
Husain dibunuh dan kepalanya dipenggal. Hampir seluruh rombongannya (kebanyakan keluarga beliau) yang tidak membawa senjata dibantai juga, serta harta miliknya dijarah kelompok Ishaq bin Khuwailid al-Khadrami.
Kepalanya dikelilingkan kesegala penjuru negeri untuk menakut-nakuti rakyat agar tidak ikut-ikutan memberontak.
Banyak derai air mata, ada pula darah yang menyembur. Ada pesta pora, ada pula rintihan yang mencabik sanubari. Demi sebuah kata; "KHILAFAH"...
Cucunda orang terkasih dan yang paling disayang, cucu dari Penyebar Islam, dibunuh secara biadab oleh pemeluk "Islam" sendiri..
***
Penulis merupakan Budayawan Muda Kota Tegal, Pengurus Lesbumi PCNU Kota Tegal