SuaraPantura.com - Tegal semakin memiliki daya tarik tersendiri terutama bagi para pengusaha kuliner.
Kali ini kuliner kopi kelas dunia dengan merek Starbuck membuka gerainya di Kota Tegal, tepatnya di di Jl. AR Hakim, persis di sebelah Belikopi.
Tentu hal ini mengundang perhatian khusus dan mempengaruhi stabilitas kaum mendang-mending Kota Tegal.
Seperti yang dialami langsung oleh seirang budayawan lajang Kota Tegal, sebut saja bernama Kang Senksonk.
Dirinya merasa galau, hasratnya meronta-ronta melihat starbuck membuka cabang gerainya di Kota Tegal.
Melihat kondisi stabilitas kegalauannya tersebur, Kang Sengsonk pun lantas membuat status yang menggambarkan dilema hatinya.
"Kaum mendang-mending kaya enyong taah milih ngopi "kapal perang" Black Coffee (baca: kopi ireng hehe) sambil lesehan ngarep umah menikmati langit malam.. (kaum mendang-mending seperti Saya lebih memilih kopi "kapal ***(merk)" sambil lesehan depan rumah menikmati langit malam)." Ungkapnya.
Kang Sengsonk juga mengungkapkan jikapun mau ke cafe, ia mentok ke cafe lokal milik seorang teman yakni di Agul Agul Kopi Nusantara.
" Mentok2'e yaa mrg kedai AGUL AGUL KOPI NUsantara
Kopi habis gak ada "glendengan" suara dalam hati, "Suuu, ngopi tok ngono (starbak), satus ewu!"... Wkwkwkwk ( mentok ke kedai AGUL AGUL KOPI NUsantara kopi habi ngga ada penyesalan)" tambahnya.
Ungkapan Kang Senksong adalah ungkapan jujur seirang lanjang kaum mendang-mending Kota Tegal nan radikal.
Kang Senksong seniman lajang nan menawan, beliau adalah penikmat kopi, tapi untuk minum kopi mahal ia lebih senang menyebut dirinya antikapitalis.
Sebab, minum segelas kopi di Starbuck, setara dengan 15 kopi di Warteg Mitri. Jelas saja Kang Senksonk lebih memilih menjadi sosialis nan abadi.
Sambil berkumpung dengan teman karibnya bernama Kang Jaim, Kang Senksonk pun mulai menerka dan merada dalam lamunan melankolisnya.
" Segelas kopi starbuck setara 15 Kopi Warteg, dan empat gelas kopi Starbuck setara daging hidup di aplikasi hijau micet," gumamnya dalam kalkulasi.
***