SuaraPantura.com - Hiruk pikuk persoalan miskin ekstrem di Pemalang seperti bersambung dalam benang merah menciptakan ruang-ruang baru "prostitusi kelas Ekonomi,".
Pasalnya, menjamurnya bisnis prostitusi kelas ekonomi itu kompak dalam bingkai warung kopi di beberapa titik temaram di Kabupaten Pemalang. Ia juga erat berdampingan dengan kondisi kemiskinan penduduk dan rusaknya infrastruktur jalan yang seolah tak berkesudahan.
Daerah yang memiliki mimpi menuju misi Agamis ini seolah tumbang tak berdaya berhadapan dengan gelombang prostitusi.
Jangan bilang bahwa pembongkaran prostitusi Comal Baru adalah prestasi dari Pemda Pemalang karena komando tertinggi pembongkaran jelas si pemilik aset, yakni PTPN IX PG Sragi.
Hal yang cukup memalukan sebenarnya bagi Pemda Pemalang, karena seusai desakan publik dari kelompok Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) disusul gerakan ormas-ormas lainnya atas prostitusi, Pemkab Pemalang lebih lambat ketimbang pihak PTPN IX PG Sragi.
Kawasan prostitusi Comal baru berdiri di atas aset milik PTPN IX PG Sragi cepat ditertibkan.
Namun titik-titik prostitusi lain yang berada langsung di wilayah Pemkab Pemalang masih belum banyak tersentuh, bahkan masih aktif beroperasi di malam hari.
Sentuhan-sentuhan pentertiban Pemkab Pemalang seolah hanya sebatas "mencolek" dan "gertak sambel" sehingga tempat-tempat prostitusi pun tak pernah benar-benar bubar, hanya cuti sebentar, kemudian buka kembali di tempat yang sama.
Berkaca dari pembongkaran Prostitusi Comal Baru Pemalang, Pemkab pun terlihat tutup mata. Para PSK disana yang notabene juga sebagian besar warga Pemalang, dibiarkan begitu saja atas hilangnya pendapatan mereka.
Tidak ada pendataan, tidak ada pelatihan, tidak ada pembinaan berkelanjutan, juga tak ada pemberian modal kerja bagi yang terdampak. Boleh dikata, Prostitusi Comal baru dibongkar dengan pendekatan kekuasaan, tanpa kemanusiaan.
Masyarakat kini menunggu langkah tegas Pemkab pemalang dalam pentertiban tempat prostitusi lain seperti Calam, Ngambo, dan lainnya.
Akankah Pemkab Pemalang berani mentertibkan, atau membiarkan?.
Dan akankah Pemkab Pemalang menunjukan Kebodohan ataukah Kebijaksanaan?.
Sruput dulu Kopinya...
***