Suarapantura.com - Ratusan massa yang menamakan diri “Rakyat Surabaya Menggugat” bikin geger depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Senin (22/6/2026) petang. Mereka turun dengan aksi keras menuntut Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya.
Aksi bertajuk “Reformati Indonesia” itu dipenuhi poster-poster bernada keras, mulai dari “Turunkan Prabowo-Gibran” hingga kritik tajam terhadap kondisi pemerintahan.
Tak hanya orasi, massa juga membawa peralatan dapur dan memukulnya saat long march dari Monumen Bambu Runcing menuju Grahadi yang sudah dijaga ketat aparat kepolisian.
Juru Bicara aksi, Miftakhur Rohmah, menegaskan tuntutan utama mereka jelas: Prabowo-Gibran harus turun dari kekuasaan.
“Prabowo sudah gagal secara konstitusional, etika, dan logika. Kami menuntut Prabowo-Gibran turun,” tegasnya di lokasi aksi.
9 Tuduhan Keras ke Pemerintah
Dalam aksi tersebut, massa juga merilis dokumen yang mereka sebut sebagai “Nawa Nestapa Rezim Prabowo”. Isinya menyoroti 9 kegagalan pemerintah, mulai dari krisis demokrasi, pelemahan hukum, hingga dugaan dominasi oligarki.
Mereka juga menuding adanya kemunduran supremasi sipil serta meningkatnya pengaruh aparat keamanan dalam politik.
Selain itu, pemerintah juga dituding gagal mengatasi masalah sosial-ekonomi hingga perlindungan kelompok rentan.
Tuntut Pemerintahan Transisi
Yang paling ekstrem, massa mendesak pembentukan pemerintahan transisi untuk menggantikan pemerintahan saat ini.
Mereka mengklaim transisi itu harus fokus pada pemulihan demokrasi, HAM, hingga penataan ulang sistem politik nasional.
“Ini harus ada perubahan fundamental. Bukan sekadar kebijakan, tapi sistemnya,” kata Miftakhur.
Aksi ini menjadi salah satu unjuk rasa paling panas di Surabaya dalam beberapa waktu terakhir, dengan tuntutan yang langsung menyasar Presiden dan Wakil Presiden.