SuaraPantura.com - Rois Syuriyah PBNU, KH. M. Azizi Chasbulloh menolak rencana pemerintah yang akan merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Pasalnya, revisi PP 109/2012 akan mematikan ladang usaha ratusan juta Nahdliyin yang menggantungkan ekonominya pada sektor tembakau.
"Sebagai bagian dari perwakilan masyarakat NU, pihaknya memberikan enam catatan kritis rencana revisi PP 109 tahun 2012," tegas KH. M. Azizi Chasbulloh di Jakarta, Kamis 2 Maret 2023.
Alasan pertama, ujar dia, dasar pemikiran, surat An Nisa ayat 5. Yang artinya: “Jangan serahkan harta dan ekonomimu yang telah dijadikan Allah sebagai urat nadi kepada orang yang tidak bertanggung jawab terhadap kemaslahatan".
Perlu dicatat, ekonomi hancur negara hancur, ekonomi kuat agama atau negara kuat, ekonomi keruh agama keruh, ekonomi baik agama baik, ekonomi aman negara aman. Itu semua yang demo-demo karena butuh ekonomi. Andai kata tidak dikasih ekonomi tidak akan tandang.
"Ini sudah jelas, saya tidak tahu yang mengurus ekonomi sekarang, tapi pesannya Allah jangan serahkan ekonomimu terhadap orang yang tidak ngerti terhadap kemaslahatan umat," imbuhnya.
Kedua, firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 188, yang artinya: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan batil, dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim atau pemerintah supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui”.
"Pesan Allah jelas bahwa jangan sekali-kali engkau memakan hartanya sebagian manusia yang lain dengan menggunakan fasilitas dengan alat pengambil kebijakan, ekonomi kebijakan negara," tegasnya.
Ketiga, firman Allah dalam surat An Nisa ayat 29, yang artinya: “Wahai orang yang beriman, jangan makan harta di antara kamu dengan batil kecuali dengan perdagangan yang saling rela menguntungkan”.
Menurut KH. M. Azizi, jangan sampai perdagangan itu berat sebelah, harus menguntungkan antara pedagang dan para petani. Ini yang harus dijaga oleh pemerintah.
Keempat, berdasarkan analisis Imam Ghozali bahwa kebutuhan manusia secara makro terbagi menjadi dua, yakni kebutuhan akhirat dan kebutuhan dunia, sedangkan dunia adalah ladang akhirat.
"Kebutuhan manusia di dunia secara makro terdiri dari tiga tingkatan, yaitu kebutuhan pokok, penyedia kebutuhan pokok, dan kebutuhan penyempurna," katanya.
Kelima, kebutuhan pokok yang tanpanya negara tidak akan berdiri dan manusia tidak akan hidup ada 4 yakni, makan, pakaian, tempat, kebutuhan pengaturan yakni hadirnya pemerintah yang adil.
Tidak mungkin orang bisa hidup sendirian, semua membutuhkan sosial interaktif kepada yang lain yang tentunya sama-sama ingin mencari untung yang besar.
"Tentu harus ada pengaturan dari pemerintah yang adil, pemerintah yang bijaksana," katanya.
Keenam, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalau dari Imam Ghozali, jelas kehadiran pemerintah yakni pemerintah yang betul-betul adil.
"Jangan karena kepentingan sesaat atau karena intervensi orang asing, karena intervensi orang-orang besar akhirnya mengorbankan orang-orang kecil," pungkasnya.***